Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Tren wisata berkelanjutan atau sustainable tourism semakin mengakar di kalangan wisatawan, bahkan mendorong mereka untuk bersedia mengeluarkan biaya lebih demi akomodasi yang ramah lingkungan. Fenomena ini menunjukkan pergeseran preferensi pelancong yang kian peduli terhadap dampak lingkungan dari aktivitas liburan mereka.
“Kita perhatikan wisatawan juga willing to spend more on this sustainable destinations (mau bayar lebih untuk destinasi berkelanjutan) begitu,” ujar Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com, Gaery Undarsa, dalam konferensi pers dua tahun perjalanan tiket Green di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Sebelumnya, dilaporkan oleh Kompas.com, proyeksi pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 95 persen wisatawan nusantara bersedia membayar lebih untuk penginapan yang mendukung konsep peduli lingkungan. Angka ini terbagi dalam beberapa kategori kesediaan membayar lebih:
- 36 persen bersedia membayar hingga 10 persen lebih mahal dari harga normal.
- 35 persen bersedia membayar hingga 25 persen lebih mahal dari harga normal.
- 18 persen bersedia membayar hingga 50 persen lebih mahal dari harga normal.
- Sekitar tujuh persen mau membayar lebih dari 50 persen dari harga normal.
Gaery menegaskan bahwa konsep wisata berkelanjutan tidak hanya terbatas pada lokasi fisik, melainkan mencakup tujuan dari perjalanan itu sendiri. “Jadi sebenarnya cukup banyak yang premium. Kalau yang kita perhatikan malah polanya itu menarik. Kalau sudah mulai premium destination, sustainability itu menjadi sesuatu daya tarik yang besar karena daya beli juga mungkin,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa akomodasi berkelanjutan premium memang banyak diminati oleh pelancong dari kalangan menengah ke atas yang memiliki daya beli kuat. “Pada akhirnya itu kembali lagi terhadap edukasi. Kalangan menengah ke atas pasti mendapatkan edukasi dan informasi mengenai hal ini jauh lebih banyak. Ya, selain itu mungkin mereka punya fleksibilitas lebih banyak,” tuturnya.
Edukasi dan Pengalaman Bermakna
Di sisi lain, edukasi mengenai wisata berkelanjutan juga semakin akrab di kalangan anak muda. Generasi Z dan generasi Alpha, terlepas dari status ekonominya, semakin mengenal konsep ini melalui media sosial, bukan semata-mata berdasarkan kondisi ekonomi.
Pemilihan akomodasi berkelanjutan juga kerap kali dikaitkan dengan pengalaman yang lebih bermakna bagi para tamu. Selain menikmati fasilitas dan layanan standar, tamu juga mencari aspek-aspek ramah lingkungan lainnya.
“Bagaimana caranya supaya kita bisa mengenalkan pengalaman yang lebih meaningful, meaningful untuk pelanggan atau untuk wisatawan secara umum,” ungkap Gaery.
Wisata berkelanjutan ini diperkuat oleh fitur tiket Green yang telah aktif digunakan oleh pengguna tiket.com selama dua tahun. Gaery menyebutkan bahwa jumlah akomodasi berkelanjutan di tiket Green telah meningkat sebesar 24 persen, menandakan minat wisatawan yang terus bertumbuh.
“Kesadaran (awareness) sudah tinggi, sudah bukan sekadar tahu, tapi mereka sudah mulai mempertimbangkan untuk memilih tempat-tempat yang lebih berkelanjutan,” jelas Gaery.
Tren Staycation Pendek
Gaery menambahkan bahwa pemesanan akomodasi tiket Green tertinggi tercatat di kota Jakarta dan Bandung. Wisatawan yang memilih hotel ramah lingkungan ini cenderung melakukan perjalanan singkat, biasanya menginap selama dua hingga tiga malam per kunjungan.
“Wisata berkelanjutan itu malah lumayan bersinar di staycation yang pendek-pendek. Jadi pengalamannya ada selama tiga hari atau hanya di akhir pekan,” ungkap Gaery.
Ikuti Akses.co.id
