— Langit terik di wilayah Juanda, Jakarta Pusat, membentangkan pemandangan deretan warung makan sederhana dengan etalase kaca yang berjejer di pinggir jalan. Warung Tegal, atau yang akrab disapa warteg, kini semakin mudah ditemui di berbagai sudut ibu kota. Dari balik etalase kaca itu, tersaji lauk-pauk berwarna keemasan hingga merah menyala, mulai dari tempe orek, ayam goreng, ikan balado, hingga sayur lodeh yang masih mengepul. Di bangku panjang yang sempit, berbagai kalangan masyarakat duduk berhimpitan; seorang pengemudi ojek daring dengan jaket hijau lusuh melahap makanannya sembari sesekali melirik ponsel, di sebelahnya seorang pegawai kantoran berkemeja rapi menyendok nasi tanpa banyak bicara, dan di sudut lain, seorang mahasiswa membuka laptop sambil menikmati santap siang. Tak ada sekat di antara mereka.

Fenomena menjamurnya warteg ini bukan sekadar soal kuliner murah, melainkan telah menjelma menjadi bagian dari denyut kehidupan kota. Warteg hadir sebagai tempat makan, tempat singgah, sekaligus ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Di balik etalase kaca yang sederhana, tersimpan cerita tentang perjuangan bertahan hidup, strategi usaha, hingga dinamika ekonomi perkotaan.

H. Maman (45), seorang pemilik warteg di wilayah Juanda, tak henti-hentinya menata ulang lauk yang mulai berkurang setelah diserbu pelanggan saat jam makan siang. Sejak pagi buta, aktivitas di wartegnya sudah dimulai, buka pukul 06.00 untuk menyasar pelanggan sarapan seperti para pengemudi ojek daring dan pekerja yang berangkat pagi.

“Paling ramai itu jam makan siang, jam 11.30 sampai jam 2. Pegawai kantor keluar semua,” ujar Maman saat ditemui Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Dalam sehari, wartegnya mampu menjual hingga 70 hingga 90 porsi makanan pada hari kerja. Angka tersebut turun ke kisaran 50 porsi di hari yang lebih sepi.

Meskipun terlihat ramai, keuntungan yang didapat tak selalu besar. Dari omzet harian sekitar Rp 800.000 hingga Rp 1 juta, laba bersih yang dikantongi Maman berkisar Rp 250.000 sampai Rp 350.000 setelah dipotong biaya operasional. Margin keuntungan yang tipis memaksa para pemilik untuk pandai menjaga keseimbangan antara harga dan kualitas, terutama ketika harga bahan pokok naik. Maman mengaku tidak berani serta-merta menaikkan harga, melainkan melakukan penyesuaian pada porsi lauk.

“Yang penting nasi jangan pelit. Orang kalau nasi kurang, kapok,” katanya.

Persaingan Ketat, Strategi Bertahan

Menjamurnya warteg di satu kawasan menciptakan persaingan yang tak terhindarkan. Di Juanda, warteg bisa ditemukan hampir di setiap tikungan jalan. Namun, menurut Maman, banyaknya pesaing tidak selalu berarti ancaman selama kualitas tetap terjaga.

“Kalau rasa turun sedikit saja, pelanggan pindah,” ujar Maman.

Strategi yang ia terapkan sederhana: variasi menu dan kebersihan. Setiap pagi, ia menyiapkan lebih dari 20 jenis lauk agar pelanggan memiliki banyak pilihan. Kebersihan menjadi poin penting yang kini semakin diperhatikan pelanggan.

Cerita serupa juga datang dari Gondangdia. Nur (52), pengelola warteg keluarga, menghadapi situasi yang sama di kawasan yang dipenuhi perkantoran kecil. Wartegnya mampu menjual hingga 100-150 porsi per hari kerja dengan omzet mencapai Rp 1,5 juta. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa keuntungan warteg tetaplah tipis.

“Warteg itu untungnya kecil. Kami jual murah, jadi harus ramai supaya untung,” kata Nur saat ditemui langsung.

Saat harga bahan pokok naik, Nur memilih menyesuaikan komposisi menu dengan memperbanyak lauk berbasis tahu, tempe, dan sayur ketika harga ayam melonjak. Porsi pun diatur agar tetap seimbang tanpa membuat pelanggan merasa dirugikan.

“Kalau pelanggan kecewa, besok enggak datang,” ujarnya.

Warteg yang Tak Pernah Tidur

Berbeda dengan Juanda dan Gondangdia, kawasan Manggarai menawarkan ritme yang lebih panjang. Di sini, warteg seolah tak pernah benar-benar sepi. Darwan (39), pemilik warteg di kawasan tersebut, membuka usahanya sejak pukul 05.30 hingga 23.00.

“Pagi ramai orang berangkat kerja, siang ramai, malam ramai lagi orang pulang,” kata Darwan saat ditemui.

Dalam sehari, ia bisa menjual hingga 150-200 porsi makanan, bahkan bisa melampaui 200 porsi saat ramai. Omzet hariannya berkisar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, dengan keuntungan bersih mencapai Rp 500.000 sampai Rp 1 juta ketika kondisi bahan stabil. Untuk menambah pemasukan, Darwan juga memanfaatkan platform pesan antar.

“Pesanan dari aplikasi bisa nambah omzet sekitar 20 persen,” ujarnya.

Namun, ia harus menyesuaikan harga untuk menutup potongan dari aplikasi.

Di sisi lain, Muti (47), pengelola warteg lain di Manggarai, menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan zaman. Selain menjaga kualitas makanan, ia juga mulai menerima pembayaran non-tunai.

“Sekarang banyak yang bayar pakai QRIS. Kalau enggak ada, kadang pelanggan batal beli,” ucap Muti.

Warteg sebagai Ruang Bertemu

Di balik angka penjualan dan strategi bisnis, warteg menyimpan dimensi sosial yang lebih dalam. Ifdal (32), seorang pengemudi ojek daring, menyebut warteg sebagai pilihan paling realistis di tengah ketidakpastian penghasilan.

“Di sini saya bisa makan kenyang dengan harga terjangkau,” ujar Ifdal.

Namun, bagi Ifdal, warteg bukan sekadar tempat makan. Ia melihat warteg sebagai ruang pertemuan lintas profesi.

“Kadang saya duduk sebelahan sama pegawai kantor, mahasiswa, tukang bangunan. Enggak ada yang mandang,” katanya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Saras (21), mahasiswa yang sedang magang di kawasan Gambir. Ia mengaku awalnya menganggap warteg sebagai tempat makan pekerja kasar. Namun, pandangannya berubah setelah sering makan di sana.

“Sekarang banyak anak muda juga. Warteg itu tempat makan semua kalangan,” ujar Saras saat ditemui.

Bagi Saras, warteg juga menghadirkan pengalaman kebersamaan yang jarang ditemukan di tempat lain.

“Kita duduk bareng, saling geser kursi. Hal kecil, tapi terasa,” katanya.

Bagi pekerja kantoran seperti Chandra (46), warteg menawarkan solusi praktis di tengah keterbatasan waktu dan biaya. Dengan waktu istirahat yang singkat, ia membutuhkan tempat makan yang cepat dan terjangkau.

“Di warteg tinggal tunjuk lauk. Enggak perlu antre lama,” ujar Chandra.

Selain kepraktisan, ia juga mencari rasa yang familiar.

Di sisi lain, Tia (38), petugas kebersihan, menyebut warteg sebagai “penyelamat”. Dengan penghasilan terbatas, ia mengandalkan warteg untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Harganya masih bisa dijangkau,” ujar Tia.

Hal ini menunjukkan bahwa warteg memainkan peran penting dalam menjaga akses pangan bagi berbagai kelompok masyarakat. Di Manggarai, Joanda (27), pekerja proyek, mengandalkan warteg sebagai bagian dari rutinitas kerja. Ia dan rekan-rekannya bahkan hafal warteg mana yang menawarkan porsi lebih banyak atau sambal paling pedas.

“Kalau kerja fisik, kita butuh makan berat,” kata Joanda saat ditemui.

Sementara itu, Anjerita (29), kasir minimarket, memilih warteg karena jam operasionalnya yang panjang.

“Kalau pulang malam, warteg masih buka,” ujarnya.

Ia juga merasakan perubahan wajah warteg yang kini lebih modern.

“Ada yang lebih bersih, lebih terang, bahkan ada branding,” kata Anjerita.

Antara Bertahan dan Bertumbuh

Menjamurnya warung tegal (warteg) di berbagai sudut Jakarta tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial-ekonomi masyarakat perkotaan. Sosiolog dari Universitas Nasional, Nia Elvina, melihat fenomena ini sebagai cerminan kondisi struktural yang lebih luas, terutama terkait keterbatasan lapangan pekerjaan dan daya beli masyarakat. Menurut Nia, warteg tumbuh bukan semata karena permintaan akan makanan murah, tetapi juga karena adanya tekanan ekonomi yang dihadapi kelompok kelas menengah ke bawah.

“Fenomena menjamurnya warteg sangat berkaitan dengan minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia bagi pemilik warteg, serta penghasilan masyarakat yang belum cukup untuk hidup layak,” ujar Nia saat dihubungi.

Dalam konteks ini, warteg berfungsi sebagai dua hal sekaligus, yaitu peluang usaha bagi pelaku ekonomi kecil dan solusi konsumsi bagi masyarakat berpenghasilan terbatas. Di satu sisi, membuka warteg menjadi alternatif bagi mereka yang tidak terserap di sektor formal. Di sisi lain, warteg menjadi pilihan rasional bagi konsumen yang harus menyesuaikan pengeluaran harian dengan pendapatan yang tidak pasti. Nia menilai, kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat urban masih berada dalam fase bertahan hidup (survival), bukan pada tahap kesejahteraan yang stabil. Warteg, dalam hal ini, hadir sebagai infrastruktur informal yang menopang kehidupan sehari-hari.

“Menjamurnya warteg mengindikasikan bahwa penghasilan yang diterima masyarakat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar,” kata dia.

Warteg, Ruang Egaliter di Tengah Kota

Dalam kacamata antropologi, warung tegal (warteg) tidak sekadar tempat makan, melainkan ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Ketua Jurusan Antropologi Budaya ISBI Bandung, Imam Setyobudi, menyebutkan warteg sebagai ruang egaliter di tengah kota yang cenderung terkotak-kotak oleh kelas sosial.

“Di warteg, kita bisa melihat kuli bangunan, pengemudi ojek online, mahasiswa, hingga pegawai kantoran duduk berdampingan. Tidak ada perlakuan berbeda. Semua dilayani sama,” ujar Imam saat dihubungi.

Di bangku panjang yang sempit, kedekatan fisik antar pelanggan menciptakan pengalaman sosial yang unik. Dalam perspektif antropologi perkotaan, hal ini menjadi bentuk penyetaraan sosial yang jarang ditemukan di ruang publik modern.

“Status sosial seolah ditanggalkan di warteg. Semua orang berada di posisi yang setara saat makan,” kata Imam.

Selain itu, warteg juga berfungsi sebagai “ruang ketiga” di luar rumah dan tempat kerja. Di ruang ini, orang bisa beristirahat sejenak dari tekanan kehidupan kota, sekaligus berinteraksi secara santai dengan orang lain.

“Warteg menjadi tempat pelarian sementara dari tekanan kerja atau kesepian di kos. Orang datang bukan hanya untuk makan, tapi juga untuk merasa menjadi bagian dari komunitas,” tutur dia.

Bagi para perantau, warteg bahkan menghadirkan nuansa kampung halaman sekaligus menjadi ruang solidaritas.