TEHERAN, Indonesia.com – Di tengah ketegangan menjelang berakhirnya tenggat waktu gencatan senjata, Iran menggelar unjuk kekuatan militer dengan memamerkan rudal balistik dalam aksi unjuk rasa pro-pemerintah yang tersebar di berbagai kota pada Selasa malam (21/4/2026).
Pameran rudal ini terjadi bertepatan dengan mendekatnya batas waktu gencatan senjata yang sebelumnya disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, yang kemudian diperpanjang oleh Presiden Donald Trump.
Massa yang memadati alun-alun utama meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika Serikat dan mendesak dilakukannya serangan terhadap Israel.
Pameran Rudal Balistik di Teheran
Rudal balistik jenis Ghadr dipamerkan secara mencolok di salah satu alun-alun utama di Teheran. Kerumunan massa yang hadir meneriakkan slogan “Matilah Amerika” dan memberikan pujian kepada sosok yang disebut sebagai Majid Mousavi, seraya menyerukan agar Mousavi “menargetkan Tel Aviv”.
Di lokasi lain di ibu kota, Iran juga menampilkan rudal balistik Khorramshahr-4. Terdapat pula foto yang terpasang pada rudal tersebut, mengindikasikan target potensial berupa RasGas, sebuah perusahaan gas alam cair yang beroperasi di Qatar.
Aksi serupa dilaporkan tidak hanya terbatas di Teheran. Pameran persenjataan juga berlangsung di kota-kota lain seperti Shiraz, Tabriz, dan Zanjan, dengan alutsista dipajang di ruang-ruang publik.
Kegiatan pro-pemerintah ini telah rutin digelar setiap hari di berbagai alun-alun utama sejak konflik dimulai pada 28 Februari. Selain sebagai bentuk dukungan publik terhadap pemerintah, aksi yang umumnya dilaksanakan pada malam hari ini juga dinilai mempersulit kelompok oposisi untuk berkumpul di pusat kota.
Ancaman Gangguan Produksi Minyak Timur Tengah
Di sela-sela aksi tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras terhadap negara-negara di kawasan Teluk. Mereka mengancam bahwa produksi minyak di wilayah tersebut dapat terganggu apabila fasilitas negara-negara tetangga digunakan untuk menyerang Iran.
“Negara-negara tetangga di selatan harus sadar bahwa jika wilayah dan fasilitas mereka dimanfaatkan untuk melayani musuh dalam menyerang bangsa Iran, mereka harus siap mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di Timur Tengah,” ujar Majid Mousavi, seperti dikutip oleh kantor berita Fars.
AS Perpanjang Gencatan Senjata
Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Keputusan ini diambil untuk memberikan waktu tambahan bagi proses negosiasi, sebagaimana dilaporkan oleh AFP. Namun, Trump menegaskan bahwa blokade laut terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan.
Trump menyatakan akan “memperpanjang gencatan senjata” hingga Iran mengajukan proposal konkret untuk mengakhiri konflik. Secara bersamaan, ia menginstruksikan militer untuk melanjutkan blokade.
Presiden ke-47 Amerika Serikat ini juga menambahkan bahwa keputusan untuk menahan serangan dilakukan atas permintaan dari pimpinan Pakistan.
“Berdasarkan fakta bahwa pemerintah Iran mengalami perpecahan yang serius, dan atas permintaan Field Marshal Asim Munir serta Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami diminta untuk menahan serangan terhadap Iran hingga para pemimpin mereka dapat menyusun proposal yang terpadu,” tulis Trump dalam pernyataannya.






