— KLATEN, KOMPAS.com – Sebuah peristiwa dugaan penganiayaan yang melibatkan debt collector dan seorang warga terjadi di kawasan Exit Tol Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, pada Selasa (21/4/2026). Insiden yang ramai diperbincangkan di media sosial ini dilaporkan bermula dari kesalahpahaman yang berujung pada cekcok dan bahkan kontak fisik.

Informasi mengenai dugaan kekerasan oleh debt collector menyebar luas setelah sebuah unggahan di akun Instagram @si menampilkan kondisi korban yang dikabarkan mengalami luka di bagian kepala dan punggung. Unggahan tersebut memperlihatkan korban dikelilingi sejumlah orang yang diduga membawa benda tumpul.

Warung Rusak Akibat Pertikaian

Kasat Reskrim Polres Klaten, AKP Taufik Frida Mustofa, membenarkan adanya insiden di dekat Exit Tol Prambanan yang diduga melibatkan kelompok debt collector atau yang dikenal sebagai ‘mata elang’. Menurutnya, penelusuran awal menunjukkan bahwa peristiwa tersebut diawali oleh perselisihan antara dua kelompok.

“Terjadi adanya kejadian di dekat dengan Exit Tol Prambanan, yaitu adanya perselisihan antara perorangan yang diduga mungkin dari kelompok matel (mata elang/debt collector),” ujar Taufik dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Kamis (24/4/2026).

Ketegangan yang awalnya berupa adu argumen ini kemudian berkembang menjadi kontak fisik. Keributan sempat terjadi di depan sebuah warung. Salah satu pihak yang diduga ketakutan kemudian masuk ke dalam warung, yang menyebabkan beberapa peralatan di dalamnya mengalami kerusakan.

“Jadi, di depan, di depan warung karena yang satu mungkin ketakutan sehingga masuk, terdorong ke dalam warung,” jelas Taufik.

Polisi Dalami Identitas Pelaku

Saat ini, pihak kepolisian masih terus mendalami kronologi kejadian secara rinci. Upaya identifikasi pelaku juga terus dilakukan, termasuk dengan memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.

Taufik menegaskan bahwa kabar yang beredar mengenai aksi pembacokan tidak benar. “Kalau identitas kita masih belum bisa pastikan. Diduga dari kelompok (matel),” katanya.

“Untuk pelaku masih kita identifikasi, belum bisa kita sebutkan jumlahnya,” imbuh Taufik.