— Suara benturan benda jatuh sebanyak lima kali terdengar di kawasan Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026) malam. Tak lama berselang, dua orang asisten rumah tangga (ART) perempuan ditemukan tergeletak di tepi jalan samping sebuah rumah kos berlantai empat.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Bendungan Walahar Buntu Nomor 32. Salah seorang saksi mata, Thamrin (35, bukan nama sebenarnya), mengaku sedang asyik bermain gawai bersama temannya di teras rumah sekitar pukul 23.00 WIB saat suara-suara itu terdengar.

“Pas itu ada suara benda jatuh keras. Lalu ada suara lagi. Terdengar jatuh dari atas. Kita pikir itu suara orang buang sampah,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Awalnya, Thamrin dan temannya merasa kesal karena mengira ada yang membuang sampah di malam hari. Namun, suara benda jatuh yang berulang hingga lima kali itu menimbulkan rasa penasaran.

“Sempat kesal kok malam-malam buang sampah sih, kedengaran dibuang dari atas gitu. Kan kayak ngapain gitu kan,” lanjut Thamrin.

Didorong rasa ingin tahu, Thamrin akhirnya memutuskan keluar dari teras untuk mencari sumber suara. Dalam kegelapan, ia terpaksa menyalakan lampu senter ponselnya.

“Saat itu terlihat dua orang perempuan tergeletak di tanah. Dan ada beberapa tas sudah di tanah. Satu perempuan tergeletak dalam posisi tengkurap. Satunya lagi telentang merintih kesakitan,” ungkap Thamrin.

Thamrin segera memanggil temannya untuk memberitahukan kondisi kedua ART tersebut, lalu melaporkan kejadian itu kepada Ketua RT setempat. Ia juga sempat mencoba menanyai kedua perempuan itu, namun tak ada jawaban.

Thamrin melihat salah satu perempuan memejamkan mata dalam posisi tengkurap, sementara yang lain terus merintih kesakitan. “Saya lihat yang merintih itu pergelangan tangannya luka,” tuturnya.

Penjaga rumah kos tempat kejadian perkara kemudian diberitahu. Teman Thamrin lantas menghubungi ambulans karena khawatir dengan kondisi keduanya.

“Teman saya panggil ambulans karena melihat dua orang perempuan itu sudah mengkhawatirkan kondisinya,” kata Thamrin.

Ambulans datang tak lama kemudian, membuat situasi di lokasi menjadi ramai. Penghuni kos lain turut berhamburan keluar dan bersama warga membantu kedua perempuan itu naik ke ambulans. Keduanya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Mintohardjo, Bendungan Hilir.

Warga Diminta Cari Identitas Korban

Ujang (26, bukan nama sebenarnya), warga lain yang tinggal tak jauh dari lokasi, turut menyaksikan evakuasi tersebut. Ia mendengar keramaian dan mendatangi lokasi.

“Saya samperin. Ternyata warga sudah berkumpul. Ada dua orang perempuan mau diangkat ke ambulans,” tutur Ujang.

Setelah ambulans meninggalkan lokasi, Ujang melihat tiga tas besar masih tergeletak di tanah. Ia kemudian diminta oleh Ketua RT untuk membantu membawa tas-tas tersebut ke rumahnya.

“Maksudnya untuk mencari petunjuk identitas. Kemudian ditemukan kartu identitas salah satu perempuan,” katanya.

Tak berselang lama, polisi tiba di lokasi sekitar pukul 24.00 WIB lebih. Kartu identitas yang ditemukan Ujang diserahkan kepada polisi untuk diperiksa lebih lanjut.

Dua ART Terjun dari Lantai 4

Diberitakan sebelumnya, kedua ART yang jatuh dari ketinggian itu diketahui berinisial D (18) dan R (30). Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra mengatakan, keduanya terjun dari lantai 4 rumah kos sekitar pukul 23.00 WIB.

“Kejadiannya tadi malam (Rabu, 22 April 2026). Setelah kedua ART loncat, ada warga yang melihat kejadian. Langsung ditolong warga,” ujar Roby saat dihubungi Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Akibat kejadian tersebut, D meninggal dunia, sementara R mengalami patah tangan dan harus dilarikan ke RS Mintohardjo.

Menurut Roby, R yang masih menjalani perawatan di rumah sakit tersebut sudah dapat memberikan keterangan awal kepada polisi.

Dugaan sementara, kedua ART tersebut nekat terjun dari lantai 4 karena ingin kabur dari rumah kos tempat mereka bekerja.

“Betul. Informasi awalnya begitu,” kata Roby.

Ia menambahkan, saksi ART lain menyebutkan bahwa D dan R merasa tidak betah bekerja di kos tersebut karena majikannya galak.

“(Saksi) Enggak ngomong suka disiksa, tapi (majikan) galak. Nah itu kan (galak) bisa saja dengan omongan, bisa saja dengan tindakan,” tutur Roby.

Saat ini, majikan dari para ART tersebut telah diperiksa oleh Satreskrim Polres Jakarta Pusat. Namun, pemeriksaan masih berlangsung.

Mengenai kemungkinan adanya penyekapan terhadap kedua ART tersebut, Roby menyatakan belum bisa memastikan.

“Belum tahu disekap atau enggak. Saya belum bisa ngomong lebih dalam ya. Masih diperiksa,” pungkas Roby.