— Ribuan warga adat Baduy Dalam dan Baduy Luar memadati Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak, Jumat (24/4/2026), untuk melaksanakan ritual tahunan Seba. Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur atas limpahan hasil pertanian ladang dan menjadi ajang silaturahmi dengan pemerintah daerah.

Tetua Adat Baduy sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menyatakan harapannya agar pelaksanaan Seba tahun ini berjalan lancar dan penuh makna. “Kami berharap pelaksanaan perayaan Seba berjalan lancar,” ujar Jaro Oom, dikutip dari Antara.

Seba: Simbol Syukur dan Kebersamaan

Ritual Seba bukan sekadar ungkapan syukur atas panen, melainkan juga sarana penting untuk mempererat hubungan antara masyarakat Baduy dan pemerintah daerah. Dalam upacara ini, warga Baduy menyerahkan hasil bumi seperti beras huma, ubi-ubian, dan buah-buahan kepada kepala daerah sebagai simbol penghormatan dan kebersamaan.

Sebanyak 1.515 warga Baduy Dalam dan Baduy Luar hadir dalam perayaan Seba 2026 yang digelar di Pendopo Pemkab Lebak. Upacara sakral ini dimulai pada Jumat malam pukul 20.00 WIB dan dihadiri oleh Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki beserta unsur Muspida.

Makna Budaya di Balik Tradisi Seba

Selain sebagai bentuk rasa syukur, Seba juga merefleksikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Baduy yang mengutamakan kedamaian, keharmonisan, dan kebersamaan. Jaro Oom menegaskan komitmen masyarakat Baduy untuk terus hidup damai dan sejahtera.

“Kami juga berterima kasih kepada bupati dan kepolisian yang melindungi masyarakat Badui hingga aman dan damai,” katanya. Tradisi ini turut menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan pemerintah sebagai elemen krusial dalam kehidupan sosial masyarakat Baduy.

Prosesi Seba: Perjalanan Penuh Makna

Perjalanan menuju lokasi perayaan Seba merupakan bagian integral dari tradisi ini. Masyarakat Baduy Dalam tetap teguh pada adat dengan menempuh perjalanan kaki yang panjang, mencapai Rangkasbitung hingga Kota Serang, dengan jarak tempuh sekitar 160 kilometer pulang pergi. Sementara itu, sebagian masyarakat Baduy Luar menggunakan transportasi umum seperti bus.

Terdapat perbedaan mencolok dalam penampilan kedua kelompok masyarakat Baduy saat pelaksanaan Seba:

  • Baduy Dalam mengenakan pakaian serba putih, termasuk lomar putih.
  • Baduy Luar mengenakan pakaian hitam dengan lomar biru.

Perjalanan kaki yang ditempuh masyarakat Baduy Dalam mencerminkan ketaatan mereka dalam menjaga tradisi leluhur yang melarang penggunaan kendaraan modern.

Peran Pemerintah dalam Pelestarian Budaya

Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya masyarakat Baduy melalui penyelenggaraan Seba. “Kami sangat melestarikan budaya masyarakat Baduy dengan melakukan upacara Seba sebagai ikon Lebak,” ujarnya.

Pemerintah daerah juga mendukung perayaan ini dengan berbagai kegiatan pendukung. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Yosep Muhamad Holis, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan stan untuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di sekitar alun-alun Rangkasbitung.

Rangkaian acara Seba turut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, antara lain:

  • Fashion show desainer tenun Baduy
  • Talk show budaya
  • Permainan tradisional
  • Senam sehat
  • Lomba fotografi
  • Hiburan wayang golek dan musik

Tradisi Seba Baduy telah masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN), menjadikannya salah satu daya tarik wisata unggulan di Indonesia. Yosep berharap perayaan ini dapat menarik minat wisatawan dari dalam maupun luar negeri. “Seba Baduy masuk agenda Karisma Event Nusantara (KEN). Kami berharap kegiatan ini banyak mendatangkan wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri,” katanya.