Akses.co.id — Kota Semarang berhasil menempatkan diri dalam tiga besar kota paling toleran di Indonesia, sebuah pencapaian yang diraih berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025. Penghargaan prestisius ini diserahkan oleh Setara Institute di Jakarta pada Rabu (22/4/2026).
Dalam acara peluncuran IKT 2025, Pemerintah Kota Semarang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Bambang Pramusinto. Capaian ini menempatkan ibu kota Jawa Tengah tersebut di posisi ketiga nasional, mengungguli 94 kota lain yang turut dinilai. Penilaian IKT 2025 berfokus pada dua indikator utama: kebebasan beragama dan inklusi sosial.
Capaian Bukan Garis Akhir
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyambut penghargaan ini dengan penuh apresiasi dan menegaskan bahwa capaian ini bukanlah sebuah pencapaian akhir, melainkan sebuah pengingat penting. “Terima kasih kepada Setara Institute atas kepercayaan ini. Bagi kami, ini bukan garis akhir, melainkan pengingat bahwa merawat keberagaman adalah kerja yang tidak pernah selesai,” ujar Agustina dalam pernyataannya.
Agustina menekankan bahwa praktik toleransi di Kota Semarang telah meresap dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, melampaui sekadar seremoni atau acara formal. “Di Kota Semarang, toleransi tidak menunggu panggung atau acara. Ia hidup di kampung-kampung, di rumah ibadah, dan di ruang publik sebagai bagian dari keseharian warga,” tegasnya.
Tren Peningkatan Signifikan
Di bawah kepemimpinan Agustina, Semarang menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam indeks toleransi selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2021, Kota Semarang masih berada di peringkat ke-12. Posisi tersebut kemudian membaik menjadi peringkat ke-7 pada 2022, lalu naik ke peringkat ke-5 pada 2023, hingga akhirnya menembus tiga besar pada 2025.
Agustina menjelaskan bahwa kemajuan ini merupakan hasil dari komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam merumuskan kebijakan yang inklusif. Selain itu, upaya Pemkot juga mendorong terciptanya ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai latar belakang agama dan budaya di kota tersebut.
Perbandingan metaforis pun disampaikan oleh Agustina untuk menggambarkan filosofi toleransi di Semarang. “Keberagaman dan toleransi kami ibaratkan seperti bunga yang tumbuh di taman kota. Ia tidak perlu diminta untuk indah, tidak perlu dipuji untuk harum. Ia tetap mekar, memberi warna, dan menghidupkan ruang di sekitarnya. Dan tugas kami adalah memastikan taman itu tetap terawat,” imbuhnya.
Penghargaan ini didedikasikan oleh Agustina untuk seluruh warga Kota Semarang yang telah berkontribusi dalam menjaga harmoni dan memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat. Ke depan, Pemkot Semarang berkomitmen untuk terus mempererat kolaborasi dengan berbagai elemen, termasuk tokoh agama, komunitas lintas iman, dan generasi muda. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas sosial dan semakin memperkuat Semarang sebagai kota yang benar-benar inklusif.
Dengan pengakuan ini, Semarang diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota yang maju dalam pembangunan fisik, tetapi juga sebagai ruang hidup yang aman, damai, dan senantiasa menghargai keberagaman.
Ikuti Akses.co.id
