— Oxford United dipastikan terdegradasi dari Divisi Championship ke League One setelah kekalahan yang tak terhindarkan disusul oleh hasil pertandingan lain pada Sabtu. Tim yang dimiliki oleh Erick Thohir ini tidak mampu lagi mengejar zona aman dengan hanya dua laga tersisa di kasta kedua sepak bola Inggris.

Kepastian degradasi ini didapat setelah Charlton Athletic berhasil meraih kemenangan 2-1 atas Hull City. Hasil tersebut membuat selisih poin antara Oxford United dan zona aman menjadi tidak mungkin lagi untuk dikejar.

Sebelumnya, Oxford United yang diasuh oleh Matt Bloomfield sejatinya membutuhkan skenario yang sangat ketat: meraih dua kemenangan dalam dua pertandingan terakhir sambil berharap Charlton Athletic menelan dua kekalahan. Selain itu, mereka juga perlu memperbaiki selisih gol yang timpang.

Namun, skenario tersebut kini tinggal menjadi angan-angan. Degradasi ini mengakhiri perjalanan Oxford United di kasta kedua setelah dua musim berlaga, menyusul promosi yang diraih melalui jalur play-off pada musim 2023-2024.

Awal Musim yang Sulit dan Pergantian Pelatih

Oxford United mengawali musim dengan performa yang kurang memuaskan. Kekalahan dalam tiga pertandingan awal menjadi sinyal awal kesulitan yang akan dihadapi. Hingga periode Natal, tim hanya mampu mencatatkan empat kemenangan dan tertinggal dua poin dari zona aman.

Situasi buruk tersebut akhirnya berujung pada pemecatan pelatih Gary Rowett. Rowett sendiri sebelumnya ditunjuk menggantikan Des Buckingham dan sempat berhasil menjaga tim tetap bertahan di Championship. Matt Bloomfield kemudian ditunjuk sebagai pelatih kepala pada 9 Januari.

Namun, penunjukan Bloomfield tidak serta merta memberikan dampak instan. Dalam sembilan pertandingan pertamanya, Oxford United hanya mampu meraih satu kemenangan, empat kali bermain imbang, dan menelan empat kekalahan.

Sempat Tunjukkan Harapan, Namun Gagal Bertahan

Harapan untuk bertahan di Championship sempat muncul pada akhir Februari. Oxford United berhasil meraih tiga kemenangan beruntun atas West Brom, Preston, dan Blackburn. Bahkan, pada periode tersebut, mereka sempat menyamai perolehan poin Leicester City yang kala itu berada di peringkat ke-21.

Sayangnya, momentum positif tersebut tidak bertahan lama. Performa tim kembali menurun dengan hanya mampu meraih satu kemenangan dalam tujuh laga berikutnya. Jarak poin dengan zona aman pun kian melebar hingga akhirnya mencapai tujuh angka, yang secara matematis tidak mungkin lagi dikejar.

Oxford United akan menutup musim ini dengan melakoni laga tandang melawan Millwall. Kendati demikian, pada Sabtu (25/4/2026), Oxford United sempat mencatatkan kemenangan terbesar mereka musim ini dengan skor telak 4-1 atas Sheffield Wednesday, tim juru kunci klasemen, meski status degradasi mereka sudah dipastikan.

Pelatih Matt Bloomfield mengungkapkan perasaannya yang campur aduk pasca-pertandingan. “Tentu ada kekecewaan besar dengan posisi klub saat ini, tetapi juga ada kebanggaan terhadap para suporter atas dukungan mereka sepanjang musim,” ujarnya.

Bloomfield juga menekankan pentingnya proses evaluasi diri. “Anda selalu harus menilai diri sendiri. Itu bagian dari proses untuk menjadi lebih baik. Anda harus belajar dari kemunduran,” katanya.

Ole Romeny Tak Berdampak Signifikan

Musim ini menjadi musim yang kurang menyenangkan bagi penyerang Timnas Indonesia, Ole Romeny, bersama Oxford United. Pemain kelahiran Nijmegen, Belanda, ini didatangkan dengan nilai transfer yang dilaporkan memecahkan rekor klub dari FC Utrecht pada Januari 2025.

Namun, Romeny mengalami cedera serius saat memperkuat Oxford United melawan Arema FC di Piala Presiden pada awal musim. Absennya Romeny di paruh pertama musim tersebut sangat mengganggu proses adaptasinya.

Ia baru kembali merumput pada awal November. Sepanjang musim ini, Romeny tidak pernah bermain lebih dari 66 menit dalam satu pertandingan. Secara total, pemain andalan skuad Garuda ini mencatatkan 18 penampilan di semua kompetisi, namun hanya mengumpulkan 434 menit bermain tanpa kontribusi gol maupun assist.

Kontribusinya kalah jauh dibandingkan dengan Will Lankshear, pemain muda pinjaman dari Tottenham Hotspur, yang berhasil mencetak 12 gol sepanjang musim.