— TEMANGGUNG, KOMPAS.com – Keluarga Sawardi (66) di Desa Gandulan, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, diteror dengan tulisan berisi tagihan utang di pintu rumahnya. Pesan bernada ancaman itu muncul setelah video cucunya, Azril Putra Priyono, viral di media sosial.

Tulisan yang ditemukan di pintu rumah itu berbunyi: “Wes oleh bantuan yo utange di pikir yu!!!”. Kata “yu” merujuk panggilan untuk perempuan, yang dalam konteks ini diduga ditujukan kepada Prihati (43), anak Sawardi dan ibu Azril.

Sawardi, yang tinggal bersama anaknya, Prihati, dan cucunya, Azril, merasa khawatir dengan teror tersebut. Azril belakangan menjadi sorotan publik setelah videonya saat menyerahkan uang titipan ibunya ke bank titipan atau rentenir beredar luas.

“Pas pagi kami berangkat kerja, tulisan itu belum ada,” ujar Sawardi kepada Kompas.com pada Kamis (23/4/2026) malam.

Prihati, satu-satunya perempuan yang menghuni rumah tersebut, hampir pasti menjadi sasaran teror. Tulisan itu mengindikasikan tuntutan agar Prihati membayar utang setelah menerima berbagai bantuan.

Prihati Mengaku Tak Takut Meski Diteror

Kekhawatiran Sawardi sempat terlihat saat Kompas.com tiba di kediamannya, bahkan sempat menyangka wartawan adalah penagih utang anaknya.

Namun, Prihati mengaku tidak merasa takut meski mendapatkan teror di rumahnya, yang merupakan ruang paling privat bagi seseorang.

“Sudah biasa. Saya ada (utang ke) 21 orang. Dari Senin sampai Sabtu ada (yang menagih),” ungkapnya.

Prihati adalah seorang buruh serabutan. Sejak awal 2026, ia bekerja di industri briket skala rumahan bersama ayah dan adiknya. Dalam satu pekan, ia bisa bekerja penuh jika pesanan sedang banyak. Namun, jika pesanan sepi, ia hanya bisa bekerja dua hingga tiga kali seminggu. Di luar itu, ia mengambil pekerjaan apa saja, termasuk membersihkan lahan pertanian.

“Yang penting dapat uang,” ucapnya.

Ditinggal Suami, Tanggung Hidupi Tiga Anak

Dengan penghasilan yang tidak menentu, Prihati memperkirakan total utangnya berkisar antara Rp 5 hingga Rp 10 juta. Beban tersebut semakin berat karena ia ditinggal pergi oleh suami, yang juga ayah Azril.

Pria asal Grobogan itu pergi merantau ke Jakarta dengan pamit untuk bekerja, namun hingga kini tidak ada kabar dan tidak pernah mengirimkan nafkah untuk Azril yang saat itu masih berusia 1,5 tahun.

“Pamitnya kerja ke Jakarta. Tapi, sampai sekarang tidak ada kabar juga tidak pernah kirim uang,” tutur Prihati.

Prihati sebenarnya memiliki tiga orang anak. Dari pernikahan pertamanya, ia dikaruniai dua anak. Anak pertamanya meninggal sekitar sebulan lalu, sementara anak kedua kini bekerja di sebuah pabrik rokok ternama di Temanggung.

Azril Putra Priyono, anak bungsunya, digambarkan sebagai anak yang periang, baik di rumah maupun di Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita Gandulan. Bocah enam tahun ini bahkan sudah memiliki cita-cita menjadi tentara.

“Soalnya tembakannya (pistol) panjang,” katanya, menirukan ucapan Azril.

Prihati tidak menampik bahwa membesarkan kedua anaknya sendirian di awal memang terasa berat. Namun, seiring waktu, ia bisa melalui masa-masa sulit tersebut dengan dukungan Sawardi sebagai sosok laki-laki dewasa yang menjadi panutan Azril.

“Saya selalu berdoa kepada Yang Kuasa semoga saya sehat untuk mengasuh anak. Rezeki datang sendiri,” cetusnya.

Bantuan Sembako hingga Kambing untuk Keluarga Azril

Setelah video Azril viral, Kementerian Sosial melalui Sentra Terpadu Kartini Temanggung memberikan bantuan berupa sembako dan perlengkapan sekolah kepada keluarga tersebut. Bantuan lain yang diberikan adalah tiga ekor kambing beserta kandangnya, yang diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan di masa depan.

“Harapannya, bantuan ini dapat mendorong kemandirian keluarga. Kambing tersebut diharapkan bisa berkembang menjadi sumber penghasilan,” ujar Ambarina Murdiati, Pekerja Sosial Madya dari Sentra Terpadu Kartini Temanggung, dikutip dari situs Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada Senin (20/4/2026).

Selain penyaluran bantuan tersebut, Kementerian Sosial juga telah mendaftarkan keluarga Azril sebagai penerima Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Kesehatan-Penerima Bantuan Iuran (BPJS PBI). Upaya juga akan dilakukan agar keluarga ini mendapatkan akses pada Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).