Akses.co.id — Upaya meredakan konflik Timur Tengah kembali mengemuka seiring pengiriman utusan Amerika Serikat dan Iran ke Pakistan, di tengah gencatan senjata yang masih rapuh. Perang di kawasan tersebut dipicu serangan terbaru AS dan Israel ke Iran yang menewaskan beberapa pemimpin, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu, 28 Februari 2026. Iran membalasnya dengan menyerang Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Sebuah kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran, yang dimediasi Pakistan, telah dimulai setelah negosiasi di Islamabad pada 10 April 2026. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya perbedaan sikap antara kedua negara terkait kelanjutan dialog.
AS Dorong Negosiasi Langsung, Iran Tetap Berhati-hati
Pemerintah Amerika Serikat mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, dengan harapan membuka kembali jalur negosiasi dengan Iran. Gedung Putih menyatakan kedua pihak diharapkan terlibat dalam percakapan tatap muka guna mendorong kesepakatan damai.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut Iran telah lebih dulu menghubungi AS untuk meminta pertemuan langsung tersebut. “Pembicaraan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kesepakatan yang lebih luas,” ujar Leavitt, seperti dikutip dari AFP pada Sabtu (25/4/2026).
Namun, pemerintah Iran menyampaikan sikap yang berbeda. Media pemerintah Iran melaporkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tidak berencana bertemu langsung dengan delegasi Amerika Serikat di Pakistan. Teheran disebut hanya akan menggunakan Islamabad sebagai perantara untuk menyampaikan proposal perdamaian.
Kementerian Luar Negeri Pakistan pun tidak secara eksplisit menyebut adanya pertemuan langsung antara kedua pihak dalam agenda kunjungan tersebut. Hal ini menunjukkan masih adanya kehati-hatian dari pihak Iran dalam menghadapi negosiasi langsung.
Gencatan Senjata Rapuh, Serangan Tetap Terjadi
Situasi di lapangan masih menunjukkan ketegangan tinggi meskipun ada perpanjangan gencatan senjata. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu di Lebanon. Namun, serangan Israel di wilayah selatan Lebanon tetap terjadi dan dilaporkan menewaskan enam orang pada Jumat (24/4/2026).
Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang perdamaian masih menghadapi tantangan besar. Dampak konflik masih dirasakan oleh warga sipil di Lebanon. Seorang warga Tyre, Mohamad Ali Hijazi, mengaku hidupnya hancur setelah kehilangan anggota keluarga akibat serangan udara Israel.
Ia bahkan masih mencari barang-barang terakhir milik ibunya di antara puing-puing rumahnya. “Saya belum tidur selama lima hari,” ujarnya sambil menahan tangis, menggambarkan kepedihan mendalam yang dialami warga sipil.
Selat Hormuz Kunci Stabilitas Energi Global
Ketegangan di Timur Tengah juga berdampak langsung pada jalur distribusi energi dunia, terutama Selat Hormuz. Iran memberlakukan pembatasan lalu lintas kapal di selat tersebut, yang memicu gangguan pada perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG).
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menegaskan bahwa Selat Hormuz harus segera dibuka kembali tanpa batasan. Pernyataan ini menekankan pentingnya jalur tersebut bagi stabilitas ekonomi global. Di sisi lain, harga minyak sempat turun seiring harapan pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai baru.
Dinamika Politik dan Penolakan dari Lebanon
Di tengah upaya diplomasi, muncul pula penolakan dari dalam negeri Lebanon. Pemimpin blok parlemen Hizbullah, Mohammed Raad, meminta pemerintah Lebanon tidak terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Israel. Ia menilai kesepakatan damai permanen tidak akan mendapat dukungan luas di dalam negeri.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap optimistis dan menyatakan proses menuju perdamaian bersejarah sedang berjalan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa warga sipil masih menjadi korban utama dari konflik yang berkepanjangan ini.
Ikuti Akses.co.id
