Akses.co.id — Endiah Puji Hastuti, seorang peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk menempuh pendidikan tinggi. Di usianya yang ke-65 tahun, ia berhasil meraih gelar doktor di bidang rekayasa nuklir dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menjadikannya wisudawan tertua pada periode wisuda April 2026.
Keputusan Endiah untuk melanjutkan studi S3 di ITB diambilnya pada usia 62 tahun, sebuah langkah yang ia ambil setelah 30 tahun lulus dari program S2 Rekayasa Energi Nuklir di almamater yang sama. “30 tahun yang lalu saya lulus dari S2 Rekayasa Energi Nuklir di ITB. Kemudian ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang menurut saya belum selesai,” ujarnya, seperti dikutip dari unggahan akun Instagram @itb1920 pada Kamis (23/4/2026).
Baginya, proses belajar adalah sebuah kenikmatan yang tak terhingga. “Bagi saya, saya senang sekali untuk terus sekolah. Bila perlu, saya ambil post-doctoral,” ungkapnya dengan semangat.
Perjalanan Akademik dan Profesional
Endiah memulai kariernya sebagai peneliti di Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), yang kini telah melebur ke dalam BRIN. Institusinya memberikan dukungan penuh baginya untuk melanjutkan pendidikan doktoral.
Kesibukannya tidak hanya terpusat pada dunia riset. Endiah juga aktif sebagai seorang nenek dan menjabat sebagai Ketua Senam Tera Indonesia di Tangerang Selatan. “Kesibukan saya adalah sebagai seorang peneliti, kemudian seorang nenek, dan saya Ketua Senam Tera Indonesia di Tangsel,” tuturnya saat memperkenalkan diri.
Ia menegaskan bahwa tidak ada batasan usia dalam menuntut ilmu. “Tidak ada (batasan usia dalam mencari ilmu) menurut saya,” tegasnya.
Pesan untuk Generasi Z
Menyadari dinamika pendidikan saat ini, Endiah menitipkan pesan kepada mahasiswa, khususnya Generasi Z. Ia menekankan pentingnya fokus dan ketangguhan mental dalam menghadapi tantangan akademik.
“Kalau sedang kuliah, kita harus fokus ya. Apalagi kalau adik-adik yang Gen Z ya, Gen Z itu harus lebih strong, karena pendidikan tidak pernah selesai,” pesannya.
Menurut Endiah, pendidikan tinggi bukan sekadar tentang pencapaian gelar, melainkan sebuah investasi diri yang berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk terus memperkaya perspektif dan meningkatkan kemampuan individu.
“Kita perlu meningkatkan kapasitas diri untuk menambah ilmu, kemampuan, dan memperluas wawasan,” tambahnya.
Selama menempuh pendidikan doktoral di ITB, Endiah juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan internasional. Ia tercatat mengikuti Technical Meeting IAEA dan Thailand Nucl Institute, serta pada tahun 2025 diterima dalam Contract Research Project-IAEA International Atomic Energy Agency.
Ikuti Akses.co.id
