Tren

Tumpahan Minyak di Teluk Persia Meluas, Air Bersih 100 Juta Warga Terancam

Advertisement

Tumpahan minyak berskala besar kini meluas di Teluk Persia, mengancam pasokan air bersih bagi sekitar 100 juta warga di wilayah tersebut. Citra satelit dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menangkap jejak minyak yang berasal dari serangan udara terhadap fasilitas minyak dan kapal tanker di tengah konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Data citra satelit Sentinel-2 yang diambil pada Jumat (10/4/2026) menunjukkan adanya kebocoran minyak di perairan lepas pantai Pulau Lavan, Iran. Minyak tersebut dilaporkan bergerak menuju Pulau Shidvar, sebuah suaka margasatwa yang dijuluki ‘Maladewa’ dari Iran.

Sebelumnya, pada Senin (6/4/2026), citra satelit juga menangkap jejak minyak dari Pelabuhan Shuaiba di Kuwait, sekitar 50 kilometer selatan Kota Kuwait. Tumpahan minyak besar lainnya terdeteksi di Selat Hormuz, lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, secara berturut-turut pada 18 Maret, 2 April, dan 7 April 2026.

Dampak Lingkungan dan Manusia

Tumpahan minyak ini berpotensi menimbulkan kerusakan serius terhadap kehidupan laut di Teluk Persia. Selain itu, dampaknya juga mengancam operasional pabrik desalinasi yang menjadi sumber utama pasokan air bersih layak minum bagi hampir 100 juta penduduk di kawasan tersebut.

Wim Zwijnenburg, pemimpin proyek perlucutan senjata kemanusiaan di organisasi perdamaian Belanda PAX, menyatakan keprihatinannya. “Hal ini khususnya karena Pulau Lavan dekat dengan Pulau Shidvar,” katanya, merujuk pada dampak tumpahan minyak di lepas pantai Pulau Lavan terhadap penyu-penyu laut, sebagaimana dilansir dari CNN pada Selasa (21/4/2026).

Pulau Shidvar merupakan habitat penting bagi koloni burung laut dan tempat bertelur bagi penyu. Sementara itu, genangan minyak di lepas pantai Pulau Qeshm yang membentang lebih dari 8 kilometer, mengancam ekosistem laut yang lebih luas, mulai dari mikroorganisme hingga mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus.

Advertisement

Ikan yang merupakan sumber pendapatan dan makanan bagi ribuan warga pesisir Iran juga terancam. Tumpahan minyak dapat melapisi tubuh hewan laut dengan lumpur berbahaya, merusak kemampuan bulu burung untuk terbang dan isolasi bulu mamalia, yang berpotensi menyebabkan hipotermia. Keracunan akibat paparan minyak juga dapat memicu kematian massal.

Preseden Sejarah dan Ancaman Berkelanjutan

Dampak tumpahan minyak di Teluk Persia bukan kali ini saja terjadi. Perang Teluk pada tahun 1991 tercatat menyebabkan tumpahan minyak mentah antara 6 hingga 8 juta barel. Insiden tersebut dilaporkan melukai atau membunuh sekitar 114.000 hewan, termasuk berbagai jenis burung, kura-kura, lumba-lumba hidung botol, dan paus.

Teluk Persia merupakan rumah bagi berbagai spesies laut penting, termasuk dugong (Dugong dugong), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan paus bungkuk Laut Arab (Megaptera novaeangliae).

Besarnya kerusakan yang ditimbulkan oleh tumpahan minyak saat ini belum dapat dipastikan. Situasi diperparah dengan adanya puluhan kapal tanker minyak yang berisi total sekitar 20 miliar liter minyak mentah yang masih terjebak di Teluk Persia, menunggu untuk melintasi Selat Hormuz. Potensi tumpahan lebih lanjut tetap ada, terutama jika serangan terhadap kapal tanker terus berlanjut.

“Karena konflik tersebut, kecil kemungkinan tumpahan minyak yang ada akan dibersihkan tepat waktu untuk mencegah dampak terburuk,” kata Nina Noelle, juru bicara Greenpeace Jerman, dilansir dari Live Science pada Rabu (22/4/2026).

Advertisement