— Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak memiliki urgensi untuk segera mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir dua bulan dengan Iran. Trump menekankan keinginannya untuk mencapai kesepakatan terbaik, meskipun negosiasi masih menemui jalan buntu.

“Saya tidak ingin terburu-buru,” ujar Trump, sebagaimana dilaporkan oleh BBC pada Kamis (23/4/2026) waktu setempat. Ketegangan antara kedua negara ini pecah pada 28 Februari 2026.

Klaim Kendali Penuh atas Selat Hormuz

Di tengah situasi yang masih memanas, Trump secara tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Jalur perairan strategis ini dijanjikan akan dibuka kembali setelah kesepakatan tercapai dengan Iran.

“Saya yang membuatnya tetap tertutup. Jika mereka tidak ingin membuat kesepakatan, maka saya akan menyelesaikannya secara militer,” tegas Trump. Ia menolak keras kemungkinan Iran meraup pendapatan signifikan dari penjualan minyak selama masa gencatan senjata berlaku.

“Saya tidak ingin mereka menghasilkan 500 juta dolar per hari sampai mereka menyelesaikan ini,” imbuhnya.

Menurut laporan Xinhua pada Kamis, Trump juga mengakui bahwa kebijakan ini berpotensi menyebabkan lonjakan harga bensin bagi warga AS dalam jangka waktu sementara. Imbalan dari langkah ini, menurut Trump, adalah “Iran tanpa senjata nuklir”.

[video.1]

AS Tak Merasa Tertekan oleh Waktu

Melalui berbagai pesan, Trump menekankan bahwa waktu tidak berpihak pada Iran dalam penyelesaian konflik ini. Dalam unggahannya di Truth Social, ia menyatakan bahwa dirinya adalah pihak yang paling tidak tertekan dalam situasi tersebut.

“Saya mungkin orang yang paling tidak berada di bawah tekanan dalam posisi ini. Saya punya seluruh waktu di dunia, tetapi Iran tidak, waktu terus berjalan!” tulis Trump. “Waktu tidak berpihak pada mereka!”

Trump menambahkan bahwa setiap kesepakatan damai yang akan dibuat dengan Iran akan didasarkan pada syarat dan waktu yang ditentukan oleh Amerika Serikat.

“Sebuah kesepakatan hanya akan dibuat ketika itu tepat dan baik bagi Amerika Serikat, sekutu kami, dan pada akhirnya seluruh dunia,” tuturnya.

Pada Rabu (22/4/2026), Trump juga mengindikasikan bahwa tidak ada kerangka waktu spesifik untuk mengakhiri perang. Ia menegaskan tidak ada tekanan waktu terkait perpanjangan gencatan senjata atau kebuntuan perundingan.

The Guardian melaporkan pada Rabu, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa lini masa konflik antara Washington dan Teheran bergantung pada keputusan presiden. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan hal ini saat ditanya mengenai estimasi durasi perang.

“Hal itu bergantung pada presiden, yang akan mengambil keputusan ketika ia merasa itu demi kepentingan terbaik Amerika Serikat dan rakyat Amerika,” kata Leavitt kepada awak media dalam konferensi pers di Washington.

Iran Tolak Hadiri Negosiasi Lanjutan

Upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi oleh Pakistan di Islamabad belum membuahkan hasil. Peluang untuk perundingan lanjutan sempat muncul, namun Iran dilaporkan menolak untuk hadir.

Mengutip The Guardian, Iran enggan melanjutkan pembicaraan selama blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlangsung, yang dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Al Jazeera melaporkan pada Senin (20/4/2026), Ketua Parlemen Iran sekaligus Kepala Negosiator Mohammad Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan bersedia berunding di bawah ancaman. Ia juga menyatakan negaranya telah menyiapkan kemampuan militer baru jika pembicaraan menemui kegagalan.

“Kami tidak menerima negosiasi di bawah ancaman, dan dalam dua minggu terakhir kami telah bersiap menyiapkan langkah-langkah baru di medan pertempuran,” kata Ghalibaf dalam unggahan di media sosial.