Akses.co.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan militer untuk “menembak dan membunuh” kapal-kapal kecil Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz. Perintah tegas ini dikeluarkan pada Kamis (23/4/2026) menyusul insiden yang kembali menunjukkan kemampuan Iran mengganggu lalu lintas di jalur vital tersebut. Bersamaan dengan itu, Trump juga mengumumkan perpanjangan gencatan senjata di Lebanon selama tiga pekan.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump menyatakan, “Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan membunuh kapal apa pun, meskipun kecil yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz.” Ia menambahkan bahwa kapal penyapu ranjau AS tengah berupaya membersihkan selat tersebut. Trump juga mengindikasikan peningkatan intensitas operasi, “Saya dengan ini memerintahkan aktivitas itu untuk terus berlanjut, tetapi dengan tingkat tiga kali lipat!”
Pernyataan ini dikeluarkan tak lama setelah militer AS menyita kapal tanker lain yang diduga terkait dengan penyelundupan minyak Iran. Insiden ini semakin memperdalam kebuntuan antara kedua negara di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam dunia dalam kondisi normal.
Departemen Pertahanan merilis rekaman yang menunjukkan pasukan AS berada di dek kapal tanker berbendera Guinea, Majestic X. Kapal tersebut sebelumnya telah dijatuhi sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada 2024 karena dituding menyelundupkan minyak mentah Iran.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran melaporkan serangan terhadap tiga kapal kargo di selat tersebut, dan berhasil menyita dua di antaranya. Kepala peradilan Iran, Gholam Hossein Mohseni Ejei, menyebut ketiga kapal tersebut sebagai “pelanggar” yang akan dikenai tindakan hukum. Ia menambahkan bahwa unjuk kekuatan angkatan bersenjata Iran di Selat Hormuz merupakan “sumber kebanggaan,” seraya mengklaim Amerika Serikat “tidak memiliki keberanian” untuk mendekati selat itu.
Kebuntuan Diplomasi dan Klaim Perpecahan
Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih menghadapi jalan buntu. Rencana pertemuan di Islamabad hingga kini belum terlaksana. Iran menolak hadir sebelum blokade pelabuhan dicabut, sementara Gedung Putih menuntut Teheran membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas internasional.
Dalam konteks ini, Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV, turut menyerukan kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Presiden Trump juga mengklaim adanya perpecahan dalam kepemimpinan Iran. “Iran sedang sangat kesulitan menentukan siapa pemimpinnya! Mereka bahkan tidak tahu!” ujarnya. Namun, klaim ini dibantah oleh Presiden Iran dan ketua parlemen yang menyatakan, “Kami semua adalah orang Iran dan revolusioner.” Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pernyataan Trump sebagai “pengalihan isu,” sementara pejabat lain menegaskan bahwa negara tetap solid.
Trump sendiri menyatakan tidak ingin terburu-buru mengakhiri konflik. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat “telah melumpuhkan negara itu” dalam empat minggu pertama dan kini hanya menunggu kemungkinan kesepakatan. “Jika mereka tidak ingin membuat kesepakatan, maka saya akan menyelesaikannya secara militer,” tegasnya, seraya memastikan tidak akan menggunakan senjata nuklir.
Perpanjangan Gencatan Senjata Lebanon
Di tengah eskalasi ketegangan, Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selama tiga minggu. Keputusan ini diambil setelah pertemuan antara duta besar Israel dan Lebanon di Gedung Putih. “Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah,” kata Trump.
Meskipun demikian, situasi di lapangan dilaporkan tetap rapuh. Militer Israel melaporkan serangan terhadap peluncur rudal di Lebanon, sementara Hizbullah mengaku menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai balasan. Kedua pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata.
Ancaman terhadap Jalur Pelayaran Global
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, lebih dari 30 kapal dilaporkan diserang di kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Ancaman ini, ditambah dengan lonjakan premi asuransi, telah membuat banyak kapal enggan melintas di jalur tersebut.
Jakob Larsen dari organisasi pelayaran internasional BIMCO mengatakan bahwa perusahaan pelayaran membutuhkan gencatan senjata yang stabil serta jaminan keamanan dari kedua belah pihak. Ia menekankan bahwa ancaman ranjau menjadi “kekhawatiran khusus” apabila lalu lintas pelayaran ingin kembali normal.
Ikuti Akses.co.id
