Global

Trump Ingin Keluar dari Perang Iran, Teheran Tak Mau Lepas Begitu Saja

Advertisement

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mencari jalan keluar dari konflik yang membebani anggaran negaranya. Keputusan Trump untuk memperpanjang masa gencatan senjata secara sepihak ini tampaknya belum cukup untuk meredakan ketegangan dengan Iran, yang disebut enggan memberikan “kemenangan” mudah bagi Washington.

Persoalan krusial yang belum terselesaikan adalah blokade angkatan laut yang masih dipertahankan oleh Trump. Bagi Teheran, penghentian blokade ini menjadi harga mati yang harus dipenuhi sebelum mereka bersedia mempertimbangkan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik.

Meski Trump menunjukkan harapan besar pada putaran kedua perundingan di Pakistan dengan menyiapkan Wakil Presiden JD Vance, pihak Iran secara tegas menolak untuk menghadiri negosiasi lanjutan tersebut.

Dilema Politik Trump

Perpanjangan gencatan senjata oleh Trump didasari oleh asumsi bahwa kepemimpinan di Iran tengah terbelah dan membutuhkan waktu untuk merumuskan proposal baru. Namun, para analis melihat langkah ini lebih sebagai upaya Trump untuk menghentikan eskalasi konflik.

“Dia sebenarnya bisa saja semakin nekat dan terlibat dalam aksi militer yang lebih gegabah. Tetapi sejauh ini dia telah berhenti menggali lubang yang lebih dalam untuk dirinya sendiri,” kata Alex Vatanka, seorang peneliti senior di Middle East Institute yang fokus pada kajian Iran, seperti dikutip dari AFP, Kamis (23/4/2026).

Konflik ini telah menjadi bencana politik bagi Trump. Sebagai presiden yang berkampanye dengan janji untuk menghindari intervensi militer, ia kini menghadapi penentangan dari berbagai pihak, termasuk dari basis pendukung Partai Republik.

Di sisi lain, Iran membalas serangan Amerika Serikat dengan memperkuat kontrol di Selat Hormuz. Tindakan ini berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar minyak di AS, menjelang pemilihan kongres.

Iran Tak Berada di Ambang Kehancuran

Danny Citrinowicz, seorang peneliti di Institut Studi Keamanan Nasional Universitas Tel Aviv dan Atlantic Council yang berbasis di Washington, menilai bahwa Iran tidak berada di ambang keruntuhan dan tidak akan menyerah begitu saja.

“Trump tidak menginginkan eskalasi. Saya tidak mengatakan tidak akan ada eskalasi, tetapi dia mencoba untuk benar-benar menghabiskan semua opsi politik yang ada,” katanya.

Advertisement

“Saya pikir Trump sudah muak dengan perang ini dan lebih dari itu, dia mengerti, terlepas dari apa yang dia katakan, bahwa harga yang harus dibayar hanya akan semakin mahal. Harganya tidak akan turun,” sambungnya.

Namun, para pemimpin Iran disebut sangat mencurigai keputusan Trump memperpanjang gencatan senjata. Kecurigaan ini muncul lantaran Amerika Serikat kerap melancarkan serangan saat para negosiatornya sedang membahas kesepakatan, sebuah pola yang juga terjadi tahun lalu.

Baik Trump maupun para penguasa Iran sama-sama sensitif terhadap anggapan bahwa mereka mundur dari tuntutan masing-masing.

Dengan mendeklarasikan blokade angkatan laut selama gencatan senjata, Trump secara tidak langsung memaksa Iran untuk memberikan respons.

Sebagai salah satu kemungkinan jalan keluar, Vatanka berpendapat bahwa Amerika Serikat dapat mempertahankan blokade tersebut, namun tidak menegakkannya secara ketat.

“Pihak Iran akan tahu jika aturan itu tidak ditegakkan karena itu mudah diukur,” jelas Vatanka.

“Iran bisa saja menyebutnya sebagai kemenangan, tetapi jika mereka bersikeras untuk membuka diri sepenuhnya, itu menunjukkan kepada saya bahwa mereka lebih tertarik pada citra publik daripada benar-benar mencapai kesepakatan. Itu akan menjadi kesalahan di pihak mereka,” lanjutnya.

Advertisement