Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Iran, mengklaim bahwa negara tersebut tengah mengalami krisis finansial akibat blokade ekonomi yang diberlakukan oleh AS. Trump menyebut Iran kehilangan sekitar 500 juta dollar AS atau setara Rp 8,6 triliun setiap harinya akibat terhambatnya ekspor minyak, yang menurutnya telah membawa perekonomian Iran di ambang kehancuran.
Pernyataan Trump ini muncul bersamaan dengan keputusannya untuk memperpanjang gencatan senjata di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Ia berargumen bahwa Iran sangat bergantung pada kelancaran aktivitas di Selat Hormuz untuk menjaga arus pendapatan negaranya. Trump menuding upaya Iran untuk menutup selat tersebut hanyalah taktik pencitraan di tengah tekanan blokade AS.
Dalam unggahannya di platform Truth Social pada Selasa (21/4/2024), seperti dikutip oleh Fox News, Trump menyatakan, “Iran tidak ingin Selat Hormuz ditutup, mereka ingin tetap terbuka agar bisa menghasilkan 500 juta dolar per hari (yang berarti itulah yang mereka kehilangan jika ditutup!).” Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi Iran saat ini sangat tertekan.
“Iran sedang runtuh secara finansial! Mereka ingin Selat Hormuz segera dibuka—kehabisan uang! Kehilangan 500 juta dollar AS per hari. Militer dan polisi mengeluh karena tidak dibayar. SOS!!!” tulis Trump.
AS Perpanjang Gencatan Senjata
Dalam pernyataan terpisah, Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan tujuan memberikan ruang bagi negosiasi. Keputusan ini, menurutnya, juga dipengaruhi oleh permintaan dari Pakistan.
“Berdasarkan fakta bahwa pemerintah Iran sangat terpecah, sebagaimana diduga, dan atas permintaan Field Marshal Asim Munir serta Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami diminta menahan serangan terhadap Iran sampai para pemimpin mereka dapat menyusun proposal yang terpadu,” ujar Trump.
Ia melanjutkan, “Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan tetap siap dalam segala hal, dan dengan demikian akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan dan pembahasan selesai, apa pun hasilnya.”
Iran Sebut Blokade Tindakan Perang
Di sisi lain, Iran dengan tegas menolak langkah Amerika Serikat yang memblokade pelabuhan mereka. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
“Memblokade pelabuhan Iran adalah tindakan perang dan karenanya merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata. Menyerang kapal komersial dan menyandera awaknya adalah pelanggaran yang lebih besar,” tegas Araghchi dalam unggahannya di X.
Ia menegaskan kesiapan Iran dalam menghadapi tekanan tersebut. “Iran tahu bagaimana menetralkan pembatasan, bagaimana mempertahankan kepentingannya, dan bagaimana melawan intimidasi.”
Reaksi Analis Soal Klaim Trump
Meskipun tekanan ekonomi terhadap Iran dilaporkan meningkat, sejumlah analis menilai bahwa dampak blokade AS belum sampai pada titik yang menyebabkan keruntuhan ekonomi. Mereka berpendapat bahwa efek nyata terhadap perekonomian Iran sejauh ini masih terbatas.
Saeed Laylaz, seorang ekonom dari Universitas Shahid Beheshti, seperti dilansir AFP, berpendapat bahwa dampak serius baru akan terasa jika blokade berlangsung lebih lama.
“Jika blokade berlangsung lebih dari dua atau tiga bulan, itu bisa menyebabkan kerusakan yang lebih besar,” katanya.
Laylaz juga mengingatkan bahwa dampak tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh Iran. “Jika Iran mengalami kerusakan, kerusakan terhadap negara-negara di selatan Teluk Persia pasti akan lebih besar,” tambahnya.
Analis lain, Jamie Ingram dari Middle East Economic Survey, menilai bahwa meskipun ada tekanan terhadap Iran, hal itu belum cukup untuk memicu perubahan kebijakan secara cepat.
“Kemungkinan besar Iran akan sedikit mengurangi produksi sebelum mencapai tahap di mana keterbatasan penyimpanan mulai terasa,” katanya.
Menurut Ingram, “Akan butuh waktu lama sebelum tekanan ekonomi seperti ini memaksa Iran untuk berkompromi.”






