— Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut sempat memiliki keinginan untuk menggunakan kode nuklir dalam konflik yang memanas dengan Iran. Namun, rencana tersebut disebut mendapat penolakan dari Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine.

Klaim ini pertama kali diungkapkan oleh mantan petugas Badan Intelijen AS (CIA), Larry Johnson, dalam sebuah podcast berjudul “Judging Freedom” yang dipandu Andrew Napolitano pada Senin (20/4/2026). Menurut Johnson, peristiwa itu terjadi dalam sebuah pertemuan darurat di Gedung Putih pada Sabtu (18/4/2026) yang membahas eskalasi konflik dengan Iran.

Dilansir dari AlArabiya, Rabu (22/4/2026), Johnson menggambarkan pertemuan tersebut berlangsung konfrontatif, dengan perdebatan antara Trump dan Caine yang disebutnya “cukup sengit”.

Kronologi Versi Johnson

Johnson memaparkan bahwa para peserta pertemuan darurat di Gedung Putih saat itu menyadari adanya masalah krusial terkait perang dengan Iran yang perlu segera ditangani. “Mereka menyadari bahwa mereka menghadapi beberapa masalah (terkait perang dengan Iran) dan perlu menanganinya,” terang Johnson, mengutip HindustanTimes, Selasa (21/4/2026).

“Ada laporan bahwa rapat darurat diadakan Sabtu malam, dan salah satu sumber menyebutkan bahwa di Gedung Putih, Trump ingin menggunakan kode nuklir,” imbuhnya.

Dalam pertemuan tersebut, Jenderal Dan Caine dilaporkan tegas menentang permintaan Presiden AS. Caine disebut menggunakan hak istimewanya sebagai kepala militer untuk menolak perintah tersebut. “(Caine) berdiri dan berkata ‘tidak’. Dia menggunakan hak istimewanya sebagai kepala militer,” kata Johnson, dilansir dari France24, Selasa (21/4/2026).

Podcast yang menghadirkan Johnson itu juga dilaporkan menayangkan rekaman yang memperlihatkan Jenderal Caine “berjalan keluar dengan marah”.

Fakta di Balik Klaim

Namun, narasi mengenai Jenderal Caine yang “menghalangi” Trump tersebut dinilai bertentangan dengan realitas rantai komando militer AS. Secara teknis, tidak ada seorang pun yang memiliki kewenangan untuk membatalkan perintah langsung dari seorang presiden.

Dikutip dari Wion, Rabu (22/4/2026), hingga saat ini tidak ada catatan resmi yang mengonfirmasi diadakannya pertemuan darurat tersebut. Baik Pentagon maupun Gedung Putih belum memberikan konfirmasi apa pun. Laporan mengenai adanya rapat darurat Pentagon yang berkaitan dengan keputusan penggunaan senjata nuklir juga tidak memiliki bukti pendukung.

Penyelidikan lebih lanjut terhadap narasi yang beredar luas ini menemukan bahwa sumber klaim tersebut pun tidak dapat diverifikasi. Pembuat klaim tersebut hanya menggambarkannya sebagai “satu laporan yang berasal dari Gedung Putih”.

Para ahli menekankan bahwa jika peristiwa luar biasa semacam itu benar-benar terjadi, kemungkinan besar akan menjadi sorotan utama media-media internasional. Hingga kini, klaim tersebut masih belum terbukti kebenarannya.

Trump Dikecualikan dari Rapat Penting

Terlepas dari klaim tersebut, laporan dari Wall Street Journal sebelumnya mengungkap bahwa Donald Trump “sengaja dikecualikan dari Ruang Situasi” selama operasi penyelamatan pilot AS yang ditembak jatuh di Iran. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Presiden AS saat itu berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

Trump dilaporkan sempat berteriak kepada para ajudannya “selama berjam-jam” pada saat itu. Pejabat militer disebut memilih untuk membatasi aksesnya karena meyakini bahwa “ketidaksabarannya tidak akan membantu” situasi.

Menurut laporan TheMirrorUS, Selasa (21/4/2026), kemarahan Trump yang berlangsung berjam-jam tersebut diduga dihantui kenangan krisis sandera Iran tahun 1979.

Konteks Konflik Iran-AS

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran ini telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, dipicu oleh serangan udara gabungan AS dan Israel yang menargetkan beberapa lokasi di Iran. Iran membalas dengan melancarkan serangan ke lokasi-lokasi strategis milik AS di Timur Tengah dan wilayah Israel, serta menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Saat ini, gencatan senjata sementara telah diberlakukan, namun belum ada perjanjian perdamaian yang permanen tercapai. Kemungkinan perundingan perdamaian yang berarti pun masih belum pasti.