Akses.co.id — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang Sekolah Dasar di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memicu keluhan dari para siswa dan orang tua. Tingkat kesulitan soal yang dinilai terlalu tinggi, ditambah dengan tipe soal Multiple Choice Multi Answer (MCMA) yang dianggap memberatkan, menjadi sorotan utama.
Beberapa siswa dilaporkan mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal, bahkan ada yang tidak mampu menyelesaikan seluruh pertanyaan yang diberikan. Salah seorang orang tua siswa, Ita, mengungkapkan bahwa anaknya tidak dapat menjawab sejumlah soal Matematika karena dianggap terlalu sulit. “Kemarin ikut Matematika, ada 30 soal, yang bisa dijawab 25 soal, yang 5 soal nggak dijawab. Katanya susah, bingung, ada yang belum diajarkan juga. Malah katanya ada materi SMP juga,” ujarnya, mengutip dari Tribun Jogja.
Kondisi ini, lanjut Ita, menimbulkan tekanan bagi siswa, bahkan beberapa di antaranya sampai menangis karena tidak mampu mengerjakan. “Ada juga yang sampai menangis karena tidak bisa mengerjakan. Ya kasihan to yang dapat soal sulit. Apalagi hasil TKA ini kan juga dipakai untuk mendaftar SMP,” tuturnya.
Tipe Soal MCMA Dinilai Memberatkan
Keluhan serupa juga datang dari pihak sekolah. Kepala SD Negeri Sinduadi 1, Haryanto, menyatakan bahwa tipe soal MCMA menjadi salah satu kendala signifikan bagi siswa dalam mengerjakan TKA. “Keluhan hampir sama terkait soal, khususnya soal matematika dari pusat, soal tipe MCMA memang penskoran dan bobot sangat memberatkan,” kata Haryanto.
Menurut Haryanto, pelaksanaan TKA menggunakan dua tipe soal: pilihan ganda biasa dan MCMA. Sistem pengacakan paket soal diterapkan untuk setiap siswa, yang berpotensi menimbulkan pengalaman pengerjaan yang berbeda.
Soal Disebut Terlalu Sulit
Selain tipe soal, tingkat kesulitan materi juga menjadi perhatian. Guru SD Karitas, Shinta Hera Natalia, membenarkan adanya keluhan dari siswanya, terutama pada mata pelajaran Matematika. “Nggih, (murid mengeluh soalnya susah) terutama matematika, soalnya seperti mau mengikuti olimpiade,” ujar Shinta.
Ia menjelaskan bahwa sistem Computer Based Test (CBT) dengan token membuat setiap siswa menerima soal secara acak. Hal ini mengakibatkan adanya variasi pengalaman belajar di antara siswa.
Perbedaan Soal Dinilai Tidak Adil
Perbedaan tingkat kesulitan soal yang diterima siswa juga menjadi sorotan. Disti, seorang siswa kelas 6 SD di Sleman, mengaku mendapatkan materi yang belum pernah dipelajari sebelumnya, sementara teman-temannya justru mendapatkan soal yang lebih mudah. “Menurutku materi yang belum pernah aku pelajari, sebelumnya. Nah kata teman-temanku yang lainnya, materinya itu gampang-gampang gitu,” ujarnya.
Disti menilai kondisi ini tidak adil. “Jadi (merasa) gak adil. Karena ada temanku yang misalnya gak dapat Luas, sedangkan aku dapat materinya Luas yang susah banget gitu,” keluhnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Sleman, Rira Meuthia, menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA mengacu pada kebijakan pemerintah pusat. “Adapun kontribusi soal yang diberikan daerah pada soal yang diujikan pada pelaksanaan TKA, ditentukan oleh Panitia TKA Pusat (Kemendikdasmen),” jelas Rira.
Ia menegaskan bahwa penyusunan instrumen TKA melibatkan pemerintah pusat dan daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Ikuti Akses.co.id
