Di tengah kepadatan permukiman Cilincing, Jakarta Utara, Anto (38) membuktikan bahwa lahan terbatas tidak menghalangi potensi bisnis. Garasi rumahnya disulap menjadi kandang bagi puluhan sapi, yang mampu meraup omzet miliaran rupiah setiap tahunnya, terutama saat menjelang Iduladha.
Anto memanfaatkan lahan garasi rumahnya yang terbatas untuk beternak sapi. Di area tersebut, ia berhasil memelihara puluhan ekor sapi dengan bobot terbesar mencapai sekitar satu ton. Usaha skala rumahan ini bahkan mampu menjual puluhan ekor sapi setiap tahun, yang puncaknya terjadi menjelang Iduladha.
Beberapa jenis sapi yang menjadi primadona penjualan Anto antara lain sapi limousin, sapi lokal Jawa, dan jenis lainnya. Penjualan puluhan ekor sapi setiap tahun membuat omzet peternakan Anto melonjak signifikan menjelang momen keagamaan tersebut.
“Tahun kemarin tembus omzet Rp 2 Miliar, tapi itu omzet, ya, bukan untung,” tutur Anto saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (22/4/2026). Sementara itu, keuntungan bersih per tahun disebut mencapai ratusan juta rupiah, meski Anto enggan merinci angka pastinya.
Andalkan Ampas Tahu dan Tempe untuk Pakan
Untuk menghasilkan sapi dengan bobot besar dan harga jual tinggi, Anto sangat memperhatikan asupan pakan ternaknya. Meskipun tidak tinggal di pedesaan, ia mengaku tidak kesulitan mendapatkan pakan bagi sekitar 40 ekor sapinya setiap hari.
Jerami atau rumput menjadi pakan utama untuk mempercepat penggemukan sapi. “Kalau dari protein itu dari ampas tahu, karena di lingkungan saya juga banyak pabrik-pabrik tahu, pabrik tempe gitu. Jadi itu dimanfaatin,” jelasnya.
Selain pakan, Anto juga memberikan multivitamin dari dokter hewan untuk menjaga kesehatan sapi. Ia juga bekerja sama dengan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta Utara untuk program vaksinasi rutin setiap enam bulan sekali. Vaksinasi ini bertujuan mencegah Penyakit Mulut dan Kaki (PMK), yang berpotensi mematikan jika tidak tertangani dengan baik. Anto menambahkan, vaksinasi tersebut dapat diperoleh secara gratis dari Sudin KPKP Jakarta.
Menjaga Kebersihan Kandang dan Limbah
Selain asupan nutrisi dan kesehatan, kebersihan kandang menjadi prioritas Anto untuk memastikan sapi tetap sehat dan siap jual menjelang Iduladha. Ia membersihkan kandang dua kali sehari untuk mencegah bau menyengat dan menjaga kenyamanan ternak.
Pengolahan limbah juga menjadi perhatian serius. Anto memisahkan limbah kotoran padat dan cair agar tidak mencemari lingkungan sekitar. “Kalau saya sih limbah kotoran selalu dikarungin terus, nanti pada saat per tiga hari kita buang ke tempat pembuangan di sana,” jelasnya.
Berkat pengolahan limbah yang baik, peternakan Anto tidak pernah menimbulkan keluhan dari warga sekitar. Ia mengaku dapat menjual sekitar 70 ekor sapi dari garasi rumahnya tanpa perlu membuka lapak di luar, karena telah memiliki pelanggan tetap.
Untuk memperluas jangkauan pemasaran, Anto mulai memanfaatkan media sosial. Ia kerap melakukan siaran langsung di TikTok untuk mempromosikan stok sapinya. Sejauh ini, sudah ada dua pelanggan dari TikTok yang membeli sapi di peternakannya. Selain itu, Instagram juga digunakannya untuk mempromosikan hewan ternaknya.
Tips Beternak Sapi di Tengah Pemukiman Padat dari Pakar
Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, membagikan kiat beternak sapi di tengah permukiman padat.
“Bisa cari cuan dari sapi di tengah pemukiman padat, tapi harus main rapih di mana bau terkendali, limbah aman, tetangga nyaman, sapi sehat,” ungkap Bayu kepada Kompas.com, Rabu.
Menurut Bayu, pola yang terbukti efektif untuk beternak sapi di perkotaan meliputi kandang yang tertata, pemanfaatan limbah, pengendalian bau dan lalat, adaptasi dengan cuaca ekstrem, pembatasan jumlah ternak, serta perhatian pada ketersediaan air dan sanitasi. Menjaga hubungan baik dengan warga sekitar juga menjadi kunci.
Pengolahan Limbah yang Ramah Lingkungan
Bayu menekankan pentingnya pengelolaan limbah kotoran hewan agar tidak menimbulkan bau dan mencemari lingkungan. Peternak disarankan berfokus pada pengurangan, pengolahan, dan pemanfaatan limbah.
“Pisahkan limbah padat kotoran dan cair seperti urin, air cucian kandang sejak awal. Ini memudahkan pengolahan dan mencegah pencampuran yang memperparah bau,” sambung Bayu.
Limbah padat dapat diolah menjadi pupuk kompos dengan tambahan sekam atau jerami, atau melalui vermikompos (cacing) untuk menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi. Sementara itu, limbah cair dapat diolah melalui instalasi pengolahan limbah sederhana (IPAL) dengan sistem kolam bertingkat anaerob-aerob, atau menggunakan biofilter dan tanaman air seperti eceng gondok.
“Untuk pemanfaatan limbah, kotoran ternak bisa dimasukkan ke dalam digester untuk menghasilkan biogas sebagai sumber energi untuk memasak atau daya listrik. Sisa olahannya atau slurry masih bisa dijadikan pupuk,” tutur Bayu.
Menjaga Kesehatan Sapi di Lingkungan Perkotaan
Menjaga kesehatan sapi sangat krusial, tidak hanya untuk produktivitas tetapi juga untuk mencegah penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia. Di area padat atau peternakan kecil, langkah pencegahan harus dilakukan secara disiplin.
Bayu menyarankan pemeriksaan rutin, vaksinasi, menjaga kebersihan kandang dan lingkungan, pengelolaan limbah yang aman, penyediaan pakan dan air yang higienis, isolasi sapi sakit, serta konsultasi rutin dengan dokter hewan.
Kondisi cuaca Jakarta yang tidak menentu juga menjadi tantangan. Perubahan suhu dan kelembapan drastis dapat memicu stres pada sapi. “Cara mengatasi antara lain dengan memperbaiki desain kandang, sediakan peneduh, beri suplemen, jaga kebersihan kandang tetap kering, atur pola makan dan monitoring kesehatan hewan secara rutin,” jelas Bayu.
Saran untuk Pemerintah
Bayu menilai pemerintah memiliki peran penting dalam mendukung keberadaan peternak di permukiman padat. “Perlu keseimbangan antara kepentingan ekonomi peternak, kesehatan masyarakat, dan kelestarian lingkungan,” kata Bayu.
Ia berpendapat, pelarangan semata dapat merugikan peternak, namun dibiarkan tanpa aturan berpotensi mengganggu lingkungan. Solusi terbaik menurutnya adalah pembinaan, fasilitasi, dan pengawasan oleh pemerintah melalui sistem dan regulasi yang jelas. Pendampingan, insentif, layanan kesehatan hewan, edukasi, dan pelatihan bagi peternak juga perlu diberikan.
Dengan peran aktif pemerintah, peternak dapat menjalankan usaha secara optimal sekaligus menjaga lingkungan tetap aman bagi masyarakat sekitar.






