— TRENGGALEK, KOMPAS.com — MTsN 1 Trenggalek, Jawa Timur, memilih pendekatan baru dalam menggelar acara perpisahan siswa kelas IX, meninggalkan tradisi wisuda dengan toga dan beralih ke konsep yang lebih sederhana dan melibatkan peran aktif orang tua.

Kepala MTsN 1 Trenggalek, Jamaluddin Malik, menjelaskan bahwa sekolah ingin memberikan ruang bagi wali murid untuk turut serta dalam merancang dan melaksanakan kegiatan perpisahan. “Untuk perpisahan, kami mengajak wali murid duduk bersama untuk mengonsep kegiatan sesuai keinginan mereka dan anak-anak. Madrasah sifatnya mendampingi,” ujar Jamaluddin pada Sabtu (25/4/2026).

Wali Murid Ambil Alih Konsep dan Pembiayaan

Seluruh aspek penyelenggaraan acara, mulai dari ide kreatif hingga pengaturan pendanaan, sepenuhnya diserahkan kepada panitia yang dibentuk dari perwakilan wali murid. Langkah ini diambil sebagai bentuk kolaborasi yang efektif, sekaligus memungkinkan para guru untuk lebih fokus pada tugas utama mereka, yaitu kegiatan pembelajaran.

“Semua dari wali murid, mulai konsep, kebutuhan, sampai pembiayaan,” tegas Jamaluddin. Kendati demikian, pihak madrasah tetap membuka pintu dialog jika ada wali murid yang memiliki keberatan terkait besaran biaya yang perlu dikeluarkan.

Perpisahan Tanpa Toga, Fokus pada Kesederhanaan

Konsep perpisahan tahun ini dirancang dengan menekankan nilai kesederhanaan tanpa mengurangi esensi acara. Siswa laki-laki akan mengenakan jas dan dasi, sementara siswi perempuan akan tampil mengenakan kebaya. Penggunaan toga wisuda tidak akan diterapkan dalam acara ini.

Acara perpisahan yang dijadwalkan pada 13 Mei 2026 ini juga akan diisi dengan berbagai penampilan seni yang dibawakan oleh para siswa. Selain itu, sebelum acara perpisahan, MTsN 1 Trenggalek juga akan menyelenggarakan Pentas Seni dan Gelar Karya selama lima hari, mulai 3 hingga 7 Mei 2026. Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa dalam menampilkan karya seni dan pameran hasil kreasi mereka.

Madrasah juga menyediakan area khusus berupa stan yang akan menjual produk-produk hasil karya siswa, sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan yang diterapkan di sekolah. “Harapannya saat wali murid datang, bisa melihat langsung kegiatan ini dan menjadi bagian dari kebersamaan,” tutur Jamaluddin.

Siswa Tunjukkan Kemandirian dalam Mengelola Kegiatan

Jamaluddin menambahkan bahwa kegiatan yang melibatkan siswa secara mandiri dalam perencanaan dan pelaksanaan sebelumnya telah mendapatkan respons positif. Ia menilai siswa menunjukkan tingkat kemandirian yang baik dalam mengelola berbagai kegiatan.

Ketua Panitia Perpisahan, Iwan Setiawan, mengonfirmasi hal tersebut. “Mulai dari ide, konsep, hingga pembiayaan diatur oleh para orang tua,” ujar Iwan. Ia juga memastikan bahwa panitia akan berupaya mencari solusi bagi siswa yang menghadapi kendala finansial agar tetap dapat berpartisipasi dalam acara perpisahan.