— Aktor Teuku Rifnu Wikana kembali menantang dirinya dengan memerankan karakter antagonis yang kompleks dalam film aksi terbaru, “Ikatan Darah”. Kali ini, Rifnu didapuk memerankan sosok bernama Primbon, seorang penjahat dengan latar belakang religi yang kuat, sebuah peran yang menurutnya memberikan dimensi baru dibandingkan karakter antagonis yang pernah ia lakoni sebelumnya.

Salah satu aspek yang paling menarik perhatian dalam pendalaman karakter Primbon adalah penggunaan beberapa kutipan ayat Alkitab dalam dialognya. Meski telah terbiasa memerankan tokoh antagonis, Rifnu mengaku karakter Primbon menghadirkan tantangan unik lantaran dimensi religius yang melekat.

Ia mengungkapkan bahwa proses pendalaman karakternya melibatkan diskusi intensif dengan sang sutradara, Sidharta Tata, demi memastikan setiap kutipan ayat suci yang diucapkannya memiliki bobot emosional yang tepat dan sesuai dengan narasi.

Di tengah candaan, Rifnu sempat menyinggung persepsi publik terhadap citranya yang selama ini kerap diasosiasikan dengan peran protagonis. “Sepanjang umur saya kan selalu bermain peran green flag (protagonis),” ujarnya sambil tertawa. “Kesulitannya adalah menghadirkan karakter yang berbeda lagi. Karakter Primbon ini awalnya sangat biasa, tapi melalui diskusi setiap hari dengan Tata, akhirnya terbentuk desain karakter seperti ini.”

Rifnu bahkan melontarkan candaan mengenai intensitas riset naskah yang dilakukannya bersama sutradara. “Berapa lama proses ngobrol sama Tata untuk peran pastor? Hampir masuk Kristen sih,” ucapnya, disambut gelak tawa pemain lainnya.

Sidharta Tata, sang sutradara, memberikan penjelasan mendalam mengenai pemilihan ayat-ayat Alkitab dalam dialog Primbon. Menurutnya, pemilihan tersebut bertujuan untuk menggambarkan bagaimana sebuah dogma dapat disalahgunakan oleh individu untuk membenarkan tindakan jahat mereka, sekaligus menampilkan sisi “abu-abu” manusia melalui tafsir kebenaran yang berbeda-beda.

“Ayat yang dibaca adalah ayat yang sangat punya multitafsir,” jelas Tata. “Primbon adalah seseorang yang punya satu keyakinan tertentu menurut versinya dia. Atas nama kuasa, atas nama apa yang di ‘Atas’, itu yang menjadikan dia memiliki kebenaran yang bersifat absolut.”

Melalui karakter Primbon, Tata berharap dapat mengajak penonton merenungi fenomena sosial di mana konflik sering kali dipicu oleh pihak-pihak yang merasa memegang kebenaran mutlak tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan.

Meskipun film ini menampilkan sisi gelap dari penyalahgunaan ajaran agama, Tata menekankan bahwa pesan akhir yang ingin disampaikan tetap berpijak pada nilai kebaikan universal. “Ini menjadi satu cerminan bahwa manusia sering menafsirkan versi kebenaran mereka masing-masing,” pungkasnya. “Namun, kebenaran itu sebenarnya tidak pernah bersifat absolut. Bagaimana kita bisa baik dengan semua orang, itulah kebenaran hakiki yang kita punya.”

Film “Ikatan Darah”, yang diproduksi oleh Uwais Pictures, dijadwalkan tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai tanggal 30 April 2026.