YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Layanan darurat di Kabupaten Sleman kembali menjadi sasaran teror yang diduga dilakukan oleh oknum penagih utang pinjaman online (pinjol). Setelah sebelumnya layanan ambulans, kini giliran petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Sleman yang menjadi korban laporan fiktif.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sleman, Indra Darmawan, membenarkan adanya laporan palsu yang menyebabkan personel Damkar dikerahkan. “Iya benar laporan fiktif. Laporan dengan kondisi lapangan berbeda,” ujar Indra Darmawan melalui pesan singkat, Rabu (23/4/2026).
Menurut Indra, personel Damkar sempat mendatangi sebuah lokasi setelah menerima laporan adanya gangguan ular. Namun, sesampainya di tempat tujuan, petugas tidak menemukan adanya ular maupun kejadian yang dilaporkan.
Gangguan Pelayanan Publik dan Keselamatan
Indra menyatakan keprihatinannya atas penyalahgunaan layanan darurat ini. Ia menilai laporan palsu tersebut sangat mengganggu tugas petugas Damkar yang seharusnya fokus memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Sangat prihatin sekali. Kok sampai digunakan hal-hal yang tidak pada tugasnya,” tuturnya. Pihaknya masih mendalami peristiwa ini sebelum memutuskan untuk berkoordinasi dengan kepolisian.
Modus Pasien Darurat dan Evakuasi Ular
Teror yang menimpa Damkar Sleman terungkap setelah layanan Ambulans Mer-C Jogja lebih dulu mengunggah pengalaman serupa di media sosial. Aziz Apri Nugroho, admin Ambulans Mer-C Yogya, menceritakan bahwa pihaknya pernah diminta menjemput pasien dalam kondisi darurat di daerah Caturtunggal, Depok, Sleman, untuk dibawa ke RS Panti Rapih.
“Ditelepon katanya emergency. Kami langsung berangkat karena niatnya menolong,” ungkap Aziz.
Namun, setibanya di lokasi, warga sekitar menginformasikan bahwa nama pasien yang disebutkan sudah pindah sejak tiga tahun lalu. Saat sopir ambulans menghubungi kembali nomor pemesan, orang tersebut akhirnya mengaku berasal dari aplikasi pinjol.
Berdasarkan informasi dari warga di lokasi yang sama, petugas Damkar juga sempat mendatangi titik tersebut pada siang harinya untuk laporan evakuasi ular yang ternyata juga fiktif.
Aksi teror ini tercatat sudah ketiga kalinya dialami tim Mer-C Jogja dalam beberapa tahun terakhir. Aziz berharap pihak berwenang segera mengusut modus ini karena dianggap sudah sangat kelewat batas dan berpotensi mengancam keselamatan nyawa banyak orang akibat terhambatnya layanan darurat.






