Akses.co.id — WASHINGTON D.C. – Seorang anggota Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat, Gannon Ken Van Dyke, didakwa atas penggunaan informasi rahasia terkait operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk meraup keuntungan dari aktivitas taruhan daring. Jaksa federal menyebutkan Van Dyke berhasil mengantongi lebih dari 400.000 dollar AS atau sekitar Rp 6,9 miliar.
Tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kepercayaan dan penyalahgunaan informasi militer yang bersifat sensitif.
Tentara AS Didakwa Gunakan Informasi Rahasia untuk Taruhan
Otoritas federal pada Kamis (23/4/2026) mengajukan dakwaan terhadap Gannon Ken Van Dyke, seorang master sergeant Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, di pengadilan federal Manhattan. Ia didakwa atas tuduhan penipuan komoditas dan penipuan kawat.
Menurut laporan The Wall Street Journal, jaksa menuduh Van Dyke memanfaatkan informasi rahasia mengenai rencana penangkapan Nicolas Maduro. Ia diduga menggunakan informasi tersebut untuk memasang taruhan di platform Polymarket dengan prediksi bahwa Maduro akan kehilangan kekuasaannya sebelum akhir Januari 2026. Nicolas Maduro sendiri dilaporkan ditangkap oleh Amerika Serikat pada 3 Januari 2026.
Jaksa AS di Manhattan, Jay Clayton, menyatakan bahwa Van Dyke telah berupaya menutupi jejaknya setelah melakukan transaksi tersebut. Sebagian besar keuntungannya dikirim ke akun kripto luar negeri, dan ia juga meminta Polymarket untuk menghapus akunnya.
Van Dyke, yang berusia 38 tahun, merupakan anggota militer aktif yang sebelumnya ditempatkan di Fort Bragg, North Carolina.
Terlibat Langsung dalam Operasi Rahasia
Jaksa mengungkapkan bahwa Van Dyke memiliki peran langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan misi yang diberi sandi “Operation Absolute Resolve”. Pada 8 Desember, ia menerima pengarahan rahasia mengenai rencana penangkapan Maduro dan telah menandatangani perjanjian kerahasiaan untuk tidak mengungkapkan informasi tersebut melalui cara apa pun.
“Terdakwa diduga melanggar kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh pemerintah Amerika Serikat dengan menggunakan informasi rahasia tentang operasi militer yang sensitif untuk memasang taruhan atas waktu dan hasil operasi tersebut, semuanya demi meraih keuntungan,” kata Clayton. “Itu jelas merupakan insider trading dan ilegal menurut hukum federal.”
Meraup Ratusan Ribu Dolar
Van Dyke diduga memasang 13 taruhan antara tanggal 27 Desember hingga 2 Januari, yang semuanya berkaitan dengan langkah Amerika Serikat terhadap Nicolas Maduro. Taruhan-taruhan tersebut dilakukan melalui akun baru dengan pola yang dianggap mencurigakan, sehingga memicu dugaan bahwa pelaku memiliki pengetahuan internal mengenai operasi tersebut.
Hanya beberapa jam setelah taruhan terakhirnya, pasukan operasi khusus AS dilaporkan memasuki Caracas dan berhasil menangkap Maduro beserta istrinya di kediaman mereka.
Dengan modal awal sekitar 33.000 dollar AS (sekitar Rp 570 juta), Van Dyke dikabarkan berhasil meraup keuntungan hingga 409.000 dollar AS (sekitar Rp 7 miliar).
Respons Platform Pasar Prediksi
Pasar prediksi seperti Polymarket memungkinkan pengguna untuk bertaruh pada berbagai hasil peristiwa, mulai dari ranah politik, ekonomi, hingga olahraga. Platform ini tunduk pada hukum Amerika Serikat terkait perdagangan derivatif, meskipun juga mengoperasikan layanan lepas pantai yang menawarkan lebih banyak jenis kontrak.
Polymarket menyatakan memiliki kebijakan tegas untuk mencegah insider trading. “Ketika kami mengidentifikasi pengguna yang berdagang berdasarkan informasi pemerintah yang dirahasiakan, kami merujuk masalah tersebut ke Departemen Kehakiman dan bekerja sama dalam penyelidikan mereka,” ujar perwakilan perusahaan tersebut.
Kasus terhadap Van Dyke ini muncul sehari setelah Kalshi, pesaing Polymarket, mengumumkan telah mendenda dan menskors tiga kandidat kongres karena terbukti bertaruh pada pemilihan mereka sendiri.
Operasi Penangkapan Maduro
Penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya dilakukan melalui operasi malam hari yang merupakan hasil dari perencanaan rahasia selama berbulan-bulan. Misi tersebut dipimpin oleh pasukan operasi khusus elit dan didukung oleh seluruh cabang militer AS, serta badan intelijen dan penegak hukum.
Meskipun Presiden Donald Trump telah berulang kali mengkritik rezim Maduro selama berbulan-bulan, tidak ada indikasi publik yang mengarah pada tindakan drastis seperti penangkapan yang akan segera terjadi. Hal ini semakin memperkuat kecurigaan terhadap taruhan yang dilakukan Van Dyke karena waktunya yang sangat tepat.
Ikuti Akses.co.id
