Akses.co.id — Seorang prajurit pasukan khusus Amerika Serikat yang terlibat dalam operasi penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, kini menghadapi dakwaan terkait dugaan insider trading. Gannon Ken Van Dyke (38), yang bertugas di Angkatan Darat AS dan ditempatkan di Fort Bragg, North Carolina, diduga memanfaatkan informasi rahasia mengenai operasi tersebut untuk keuntungan finansial pribadi melalui platform taruhan daring.
Terjerat Taruhan Informasi Rahasia
Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengumumkan dakwaan terhadap Van Dyke setelah ia diduga melakukan perdagangan di Polymarket, sebuah platform berbasis kripto. Informasi yang diperolehnya secara rahasia digunakan untuk memasang taruhan mengenai hasil dan waktu penangkapan Maduro, yang kemudian dikonfirmasi sebagai pelanggaran hukum federal.
“Ini jelas merupakan insider trading dan ilegal menurut hukum federal,” ujar seorang pejabat Departemen Kehakiman.
Van Dyke dilaporkan memenangi lebih dari 409.000 dollar AS, yang setara dengan sekitar Rp 7 miliar (berdasarkan kurs pada Jumat, 24 April 2026), dari taruhannya tersebut. Kemenangan ini berasal dari taruhan yang dipasang berdasarkan informasi spesifik mengenai Operasi Absolute Resolve, yang berhasil menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dari kediaman mereka di Caracas pada malam 3 Januari 2026.
Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan pelanggaran senjata dan narkoba. Departemen Kehakiman menegaskan bahwa motif Van Dyke adalah murni untuk mendapatkan keuntungan finansial.
“Semua itu untuk mendapatkan keuntungan,” tegas Departemen Kehakiman pada Kamis (23 April 2026).
Detail Dakwaan dan Kerjasama Platform Taruhan
Menurut dakwaan yang diajukan oleh Departemen Kehakiman AS, Van Dyke diduga membuat akun di Polymarket sekitar tanggal 26 Desember 2025. Sejak saat itu, ia dilaporkan mulai melakukan perdagangan di pasar yang berkaitan dengan Maduro dan Venezuela. Puncaknya, ia dituduh memasang taruhan senilai lebih dari 33.000 dollar AS (sekitar Rp 570 juta) ketika ia telah memiliki informasi rahasia yang belum dipublikasikan mengenai Operasi Absolute Resolve.
Menanggapi kasus ini, Polymarket menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan pihak berwenang. Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial pada Kamis (23 April 2026), platform tersebut menegaskan bahwa mereka melaporkan pengguna yang dicurigai menjual informasi rahasia pemerintah kepada Departemen Kehakiman dan bekerja sama dalam investigasi.
“Insider trading tidak memiliki tempat di Polymarket. Penangkapan hari ini membuktikan sistem berjalan,” tegas Polymarket.
Pasal-Pasal yang Menjerat Van Dyke
Surat dakwaan yang dibuka pada Kamis (23 April 2026) merinci beberapa pasal yang dikenakan kepada Van Dyke. Ia didakwa dengan penggunaan informasi pemerintah yang bersifat rahasia secara tidak sah untuk keuntungan pribadi, pencurian informasi pemerintah yang bersifat non-publik, penipuan komoditas, penipuan melalui transfer elektronik, dan melakukan transaksi keuangan yang melanggar hukum.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menekankan bahwa para prajurit dan petugas berseragam dipercayai dengan informasi rahasia untuk menjalankan misi mereka secara aman dan efektif. Penggunaan informasi sensitif ini untuk keuntungan finansial pribadi dilarang keras.
“Para prajurit dan petugas berseragam kita dipercayai dengan informasi rahasia untuk menyelesaikan misi mereka seaman dan seefektif mungkin, dan dilarang menggunakan informasi yang sangat sensitif ini untuk keuntungan finansial pribadi,” kata Todd Blanche, dilansir dari BBC, Jumat (24 April 2026).
Jaksa AS Jay Clayton untuk Distrik Selatan New York, yang akan menangani kasus ini, menambahkan bahwa pasar prediksi bukanlah tempat yang aman untuk menyalahgunakan informasi rahasia demi keuntungan pribadi.
Sebagai seorang anggota militer, Van Dyke diketahui telah menandatangani perjanjian kerahasiaan yang melarangnya membocorkan, mempublikasikan, atau mengungkapkan informasi rahasia terkait operasi militer melalui cara apa pun. Selain dari DOJ, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC), sebuah badan federal AS, juga telah mengajukan pengaduan terhadap Van Dyke atas tuduhan terlibat dalam transaksi orang dalam.
Tanggapan Presiden AS
Menanggapi pertanyaan mengenai kasus tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia belum mendengar detailnya namun akan segera menyelidikinya. Ia juga mengungkapkan ketidaknyamanannya terhadap praktik insider trading.
“Sayangnya, seluruh dunia telah menjadi semacam kasino, dan lihatlah apa yang terjadi di seluruh dunia, di Eropa dan di mana-mana, mereka melakukan hal-hal perjudian ini. Saya tidak pernah terlalu menyukai hal itu,” ujar Presiden Trump.
Ikuti Akses.co.id
