Akses.co.id — PADANG PARIAMAN, KOMPAS.com — Penemuan tengkorak manusia di Korong Lubuk Aur, Nagari Anduring, Kecamatan Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, pada Jumat (24/4/2026) memunculkan dugaan kuat bahwa fosil tersebut adalah salah satu dari 28 korban yang masih hilang akibat bencana banjir bandang atau galodo di kawasan Jembatan Kembar Silaing, Kota Padang Panjang. Dugaan ini menguat setelah data dari tim pencarian menunjukkan masih ada korban yang belum ditemukan sejak operasi SAR berakhir pada akhir Desember 2025.
Petugas Rescue Kantor SAR Padang, Samsul Akmal (39), menyatakan bahwa berdasarkan catatan terakhir, masih ada sekitar 28 korban yang belum teridentifikasi. Mayoritas korban hilang berasal dari kawasan RT 20 Silaing Bawah dan warga yang sedang berada di area istirahat (rest area) Jembatan Kembar saat galodo menerjang.
“Berdasarkan catatan kami terakhir, masih ada sekitar 28 orang yang belum ditemukan,” ujar Samsul kepada Kompas.com pada Jumat (24/04/2026). Ia menambahkan, ada kemungkinan besar korban terseret arus dan terbawa jauh dari lokasi awal bencana, mengikuti aliran sungai hingga ke wilayah Padang Pariaman.
“Penyisiran waktu itu tidak hanya di Batang Anai, tetapi sampai ke laut. Namun, sebagian besar korban memang ditemukan di aliran sungai,” jelasnya. Samsul menuturkan, derasnya luapan air saat bencana menyebabkan banyak korban tertimbun material seperti lumpur, kayu, dan batu dalam jumlah besar, sehingga menyulitkan proses pencarian.
“Material galodo sangat banyak dan dalam. Saat itu, hampir tidak mungkin digali tanpa titik pasti. Itu kendala utama,” ungkap Samsul.
Kemungkinan Korban Baru Ditemukan Pascabencana
Kondisi tersebut, lanjut Samsul, membuka kemungkinan bahwa sebagian korban masih tertimbun dan baru dapat ditemukan saat proses rehabilitasi pascabencana dilakukan, seperti normalisasi sungai atau perbaikan lahan pertanian. “Bisa saja ditemukan sekarang karena material mulai dibersihkan. Tapi, identifikasi tentu lebih sulit, harus melalui uji DNA,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Padang Pariaman, Emri Nurman, menegaskan bahwa seluruh korban hilang dari wilayah Padang Pariaman telah berhasil ditemukan selama masa tanggap darurat. Namun, ia tidak menampik kemungkinan adanya korban dari wilayah lain yang terbawa arus hingga ke daerahnya.
“Di Batang Anai saja ada sekitar 40 jenazah ditemukan, banyak di antaranya korban dari kawasan Jembatan Kembar Silaing Padang Panjang,” kata Emri. Ia menilai, jika tengkorak yang ditemukan di Lubuk Aur benar merupakan korban galodo, maka besar kemungkinan berasal dari kawasan tersebut.
Proses Identifikasi Lanjut
Sebelumnya, tengkorak manusia tersebut ditemukan oleh seorang petani saat sedang membersihkan sawahnya yang tertimbun material banjir bandang. Selain tengkorak kepala, ditemukan pula bagian tubuh lain seperti rambut, gigi, dan tulang. Pihak kepolisian telah mengevakuasi temuan tersebut dan membawanya ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang untuk dilakukan otopsi dan pemeriksaan DNA guna memastikan identitas korban.
Meskipun dugaan mengarah pada korban galodo, pihak berwenang mengingatkan bahwa setiap temuan tulang belulang tetap harus melalui proses identifikasi forensik yang ketat sebelum dapat dipastikan asal-usulnya.
Ikuti Akses.co.id
