— Seorang teknisi elektronik Angkatan Laut Amerika Serikat terpaksa menghentikan tugasnya setelah diserang oleh seekor monyet saat kapal tempatnya bertugas singgah di Thailand. Insiden tak terduga ini terjadi ketika kapal penyapu ranjau USS Chief sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah.

Teknisi yang identitasnya dirahasiakan tersebut mengalami luka cakaran monyet ketika berada di Phuket, Thailand. Hal ini dilaporkan oleh media AS, Axios, dan dikutip oleh The New York Post.

“Hal-hal aneh bisa terjadi. Ini jelas merupakan sesuatu yang tidak diketahui sama sekali,” ujar seorang pejabat militer kepada media tersebut.

Monyet memang kerap terlihat berkeliaran di kota-kota Thailand. Perilaku beberapa di antaranya yang agresif terkadang menimbulkan insiden, mulai dari mencuri makanan hingga serangan fisik.

Meskipun tidak mengalami cedera serius, teknisi tersebut dievakuasi ke pangkalan Kepala Staf di Sasebo, Jepang, untuk mendapatkan perawatan medis. Insiden pribadi tersebut dilaporkan tidak menghambat misi utama kapal USS Chief yang ditugaskan untuk membersihkan Selat Hormuz dari ranjau Iran.

Misi Penyadapan Ranjau di Selat Hormuz

Iran dituding telah memenuhi jalur pelayaran strategis tersebut dengan ranjau-ranjau berbahaya. Kondisi ini menyebabkan terhentinya lalu lintas laut dan membuat ratusan kapal terjebak di Teluk Persia.

Presiden AS saat itu, Donald Trump, pada Kamis (23/4/2026), menyatakan bahwa militer AS tengah meningkatkan upaya pembersihan Selat Hormuz. Tujuannya adalah untuk meredakan kenaikan harga minyak global yang dipicu oleh penutupan jalur laut tersebut akibat konflik.

“Kapal-kapal penyapu ranjau kita sedang membersihkan Selat saat ini. Dengan ini saya memerintahkan agar aktivitas tersebut dilanjutkan, tetapi dengan intensitas tiga kali lipat!” tegas Trump kala itu.

[video.1]

Teknologi Canggih untuk Misi Penyadapan Ranjau

Angkatan Laut AS memiliki beragam metode dalam mendeteksi dan menetralisir ranjau laut. Pilihan teknologi yang digunakan meliputi helikopter, kapal tempur pesisir, lumba-lumba terlatih, hingga penggunaan drone.

Salah satu teknologi yang dimanfaatkan adalah Common Uncrewed Surface Vessel (CUS). Drone buatan RTX ini dilengkapi sistem sonar apung baru bernama AQS-20 yang berfungsi memindai dasar laut untuk mencari keberadaan ranjau. CUS mampu berpatroli dalam formasi selebar 100 kaki sekaligus.

Selain itu, terdapat pula drone kapal selam bertenaga baterai, yakni MK18 Mod 2 Kingfish dan Knifefish, yang diproduksi oleh General Dynamics. Perangkat ini dapat diluncurkan dari perahu kecil dan melakukan pemindaian ranjau dalam pola tertentu.

[img.2]

Misi penyapuan ranjau ini dilakukan di tengah upaya AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk tekanan terhadap Teheran. Saat ini, Iran masih mengontrol lalu lintas di Selat Hormuz, yang berdampak signifikan terhadap pasokan minyak global.