— TANGERANG SELATAN, Kompas.com – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) diprediksi menjadi wilayah terakhir di Provinsi Banten yang akan memasuki musim kemarau pada tahun 2026. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II menyatakan, kondisi curah hujan di Tangsel masih menunjukkan karakteristik masa peralihan atau pancaroba.

Kepala BBMKG Wilayah II, Hartanto, menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Banten telah bergerak menuju musim kemarau. Namun, Tangsel masih berada dalam fase transisi dengan curah hujan yang dikategorikan menengah.

“BMKG mencatat, kondisi curah hujan di Tangsel masih berada pada kisaran 50 hingga 150 milimeter per dasarian,” ujar Hartanto, Jumat (24/4/2026), mengutip dari Tribun. Ia menambahkan, “Artinya, hujan dengan intensitas sedang masih cukup dominan dan menandakan wilayah tersebut belum sepenuhnya masuk ke periode kemarau.”

Penyebab Keterlambatan Masuk Kemarau di Tangsel

Hartanto menuturkan bahwa perbedaan waktu masuknya musim kemarau di setiap wilayah merupakan fenomena yang normal dalam dinamika iklim tahunan. Beberapa faktor lokal, seperti kondisi geografis, kelembapan udara, dan pola angin, turut memengaruhi perbedaan tersebut.

Di Tangsel, kelembapan udara yang masih tinggi dan intensitas hujan yang belum menurun secara signifikan membuat wilayah ini masih bertahan dalam fase pancaroba. Berbeda dengan Tangsel, sejumlah wilayah lain di Banten seperti Kota Cilegon, bagian utara Kota Serang, serta Kabupaten Serang bagian utara, dilaporkan telah lebih dulu memasuki musim kemarau.

Pola Musim Kemarau 2026 di Banten

BMKG memprediksi bahwa sekitar 62 persen wilayah Banten akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dibandingkan kondisi normal. Selain itu, durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan akan lebih panjang.

“Sekitar 62 persen wilayah Banten diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dibanding kondisi normal, dengan durasi yang juga cenderung lebih panjang,” kata Hartanto.

Ia menambahkan bahwa sifat hujan pada musim kemarau tahun ini diproyeksikan berada di bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang lemah hingga moderat, yang diperkirakan akan terjadi pada pertengahan tahun.

Prediksi Puncak Musim Kemarau

Berdasarkan proyeksi BMKG, puncak musim kemarau di wilayah Banten diperkirakan akan terjadi pada periode Juli hingga Agustus 2026. Secara bertahap, wilayah Banten mulai memasuki musim kemarau sejak akhir Maret hingga Juni. Namun, saat ini sebagian wilayah masih berada dalam masa pancaroba yang diperkirakan berlangsung hingga awal Juni 2026.

Menariknya, meskipun secara klimatologi telah memasuki musim kemarau, potensi hujan deras masih dapat terjadi, terutama pada sore hingga malam hari. Fenomena ini dipicu oleh pemanasan permukaan yang kuat pada siang hari serta kelembapan udara yang masih tinggi, berkisar antara 60 hingga 95 persen.

“Masyarakat diharapkan dapat menghemat penggunaan air, waspada terhadap potensi kebakaran di lahan kering, serta menjaga kesehatan di tengah cuaca yang cenderung lebih panas,” imbau Hartanto.