Akses.co.id — Lebih dari satu setengah bulan setelah ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei belum pernah terlihat di hadapan publik. Penunjukannya terjadi setelah ayahnya, Ali Khamenei, meninggal dunia akibat serangan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari 2026. Mojtaba Khamenei secara resmi menjabat pada 9 Maret 2026, namun hingga kini masyarakat Iran belum menyaksikan penampilannya secara langsung.
Situasi ini berbeda drastis dengan kiprah Ali Khamenei yang selama puluhan tahun aktif tampil di ruang publik, menyampaikan pidato, dan mengambil keputusan negara secara terbuka. Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei di tengah situasi konflik yang masih berlangsung justru menimbulkan berbagai spekulasi.
Spekulasi Cedera dan Pernyataan Televisi
Pernyataan pertama Mojtaba Khamenei yang dikaitkan dengannya disampaikan melalui pembawa berita di Press TV pada Kamis, 12 Maret 2026. Pesan tersebut berisi seruan persatuan nasional, peringatan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat, serta penegasan bahwa Iran akan terus berjuang. Sejak saat itu, setiap pernyataan yang dikaitkan dengannya hanya disiarkan melalui televisi nasional atau media sosial.
Ketidakhadirannya semakin memicu spekulasi setelah muncul sebuah video yang diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI), yang seolah menampilkan Mojtaba Khamenei sedang berbicara. Laporan CNN menyebutkan bahwa sumber mereka mengindikasikan Mojtaba Khamenei mengalami patah kaki, memar di mata kiri, serta luka ringan di wajah. Cedera ini diduga merupakan dampak dari gelombang serangan yang sama yang merenggut nyawa ayahnya dan sejumlah petinggi militer Iran.
Meskipun demikian, laporan Reuters mengindikasikan bahwa ia tetap mengikuti rapat dengan pejabat senior melalui konferensi audio dan terlibat dalam pengambilan keputusan, termasuk terkait perang dan negosiasi dengan Amerika Serikat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana keterlibatannya dalam pemerintahan.
“Dia digunakan untuk memberikan legitimasi keputusan, bukan untuk mengatur taktik perundingan,” ujar Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group.
Vaez menilai, peran Mojtaba Khamenei lebih bersifat sebagai pemberi persetujuan akhir atas keputusan besar, bukan sebagai pengatur strategi teknis dalam negosiasi. Ia menambahkan bahwa sosok Mojtaba yang jarang terlihat justru dimanfaatkan sebagai “pelindung” bagi para negosiator dari kritik internal.
Negosiasi Iran-AS Makin Rumit
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah mengalami perubahan rezim setelah kematian Ali Khamenei. Ia juga menyebut delegasi Iran yang bernegosiasi saat ini sebagai pihak yang lebih rasional. Namun, perundingan antara AS dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Rencana pertemuan lanjutan yang dijadwalkan pada 22 April 2026 juga batal karena delegasi Iran tidak hadir.
Iran menyatakan tidak akan melanjutkan negosiasi selama blokade angkatan laut Amerika Serikat belum dicabut. Di tengah situasi ini, pemerintah Iran berupaya menunjukkan soliditas. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf ditunjuk memimpin negosiasi, didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Kebingungan Domestik dan Posisi Pejabat
Ketidakjelasan peran pemimpin tertinggi turut memicu kebingungan di dalam negeri. Pernyataan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran komersial menuai kritik. Media lokal menilai keputusan tersebut seharusnya mendapat persetujuan dari kepemimpinan tertinggi.
Spekulasi mengenai konflik internal pun muncul, meskipun pemerintah menegaskan bahwa kondisi tetap solid. Analis dari German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, menilai para pejabat Iran saat ini berada dalam posisi yang sulit.
“Mereka harus menyeimbangkan tekanan domestik dan eksternal dalam situasi yang sangat kompleks,” ujarnya.
Sementara itu, Ali Vaez menilai kondisi Iran saat ini masih dalam fase bertahan. Menurutnya, sosok pemimpin tertinggi yang “tak terlihat” justru memberikan ruang bagi para pejabat untuk berlindung dari kritik.
“Tidak ada yang bisa membantah seseorang yang tidak terlihat,” kata Vaez.
Ikuti Akses.co.id
