— Upaya melestarikan batik, warisan budaya bangsa, tidak melulu menjadi tanggung jawab para perajin atau pelaku industri. Sebaliknya, setiap individu dapat berkontribusi melalui kebiasaan sederhana di lingkungan rumah tangga.

Seniman Batik Jakarta, Dave Tjoa, menekankan bahwa pelestarian batik memerlukan tindakan nyata, bukan sekadar imbauan. “Mulai dari diri kita sendiri. Kita-nya enggak pakai batik, bagaimana kita bisa ajak orang lain pakai batik?” ujarnya kepada Kompas.com saat ditemui di acara Workshop Berkain Kartini Kini 2026, di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (23/4).

Menurut Dave, pembelian dan penggunaan batik secara rutin merupakan bentuk dukungan konkret bagi para perajin. Tanpa adanya permintaan pasar, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) batik akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan kelangsungan usaha mereka.

Dave menilai, tuntutan masyarakat agar pelaku batik terus bertahan seringkali tidak dibarengi dengan konsumsi produk mereka. “Kalau kalian juga enggak beli batiknya, ya dari mana mereka menghidupi para pembatik?” tuturnya.

Membuat Batik Sendiri Sebagai Bentuk Apresiasi

Selain membeli, masyarakat juga dapat mencoba membuat batik sendiri sebagai wujud apresiasi. Aktivitas ini dinilai mampu menumbuhkan pemahaman mendalam mengenai proses panjang yang terlibat dalam pembuatan selembar kain batik.

“Intinya, masing-masing dari kita bisa membatik. Enggak perlu harus rumit, bikin garis atau pola sederhana juga sudah termasuk proses membatik,” jelas Dave.

Lebih lanjut, Dave menambahkan bahwa penggunaan batik dalam keseharian dapat menjadi cara efektif dalam membangun citra budaya Indonesia. Konsistensi dalam mengenakan batik akan membentuk identitas tersendiri di mata masyarakat luas.

“Orang akan melihat kamu. Itu sudah mencitrakan sosok Indonesia,” ungkapnya.

Bagi masyarakat yang masih ragu untuk mengenakan batik, Dave menyarankan untuk memilih motif dengan warna yang tidak terlalu mencolok. Kombinasi antara atasan polos dengan bawahan bermotif, atau sebaliknya, dinilai aman untuk tampilan sehari-hari.

Dave berharap, cara-cara sederhana tersebut dapat menjadi jembatan agar batik terasa lebih akrab dengan gaya hidup modern tanpa kehilangan nilai-nilai tradisionalnya.