Akses.co.id — PT Pertamina (Persero) tengah menjajaki pengembangan bioetanol yang berasal dari sorgum sebagai alternatif bahan baku selain molase atau tetes tebu. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk mendiversifikasi sumber energi terbarukan dan menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Saat ini, Pertamina telah menjalankan proyek percontohan (pilot project) produksi bioetanol dari biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT). Inisiatif ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk bergerak menuju bahan bakar dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar yang ada saat ini.
“Saat ini, kami bergerak ke (arah) bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar eksisting,” ujar Manager Sustainability Rating & Disclosure PT Pertamina (Persero), Hendrick Warman, dalam sebuah webinar pada Jumat (24/4/2026).
Bioetanol yang dihasilkan dari sorgum memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas bahan bakar ketika dicampurkan dengan bensin. Khususnya jika dicampurkan ke dalam Pertamax, bioetanol dapat meningkatkan nilai Research Octane Number (RON) sekaligus mengurangi jejak karbon.
Pertamina telah mengimplementasikan pencampuran bioetanol sebesar 5 persen ke dalam bensin melalui produk Pertamax Green 95. Produk ini memiliki RON 95, yang berada di atas Pertamax dan di bawah Pertamax Turbo (RON 98). Saat ini, Pertamax Green 95 baru tersedia di wilayah DKI Jakarta dan Surabaya.
Untuk memenuhi kebutuhan bioetanol, Pertamina menjalin kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) sebagai pemasok. Kapasitas etanol yang disuplai PTPN saat ini mencapai 30.000 kiloliter per tahun. Pertamina berencana untuk meningkatkan kapasitas ini dengan membangun pabrik baru yang groundbreaking-nya telah dilakukan di Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi.
“Itu masih menggunakan kebun eksisting dari PTPN dan juga menggunakan bahan bakunya itu berasal dari kebun-kebun tebu dari masyarakat untuk meningkatkan harga dari etanol ini sendiri,” jelas Hendrick.
Keunggulan Sorgum Dibanding Tebu dan Singkong
Di sisi lain, sorgum dinilai memiliki keunggulan dibandingkan tebu dan singkong dalam hal potensi produksi bioetanol tanpa menimbulkan persaingan dengan sektor pangan.
Irham, seorang peneliti dari Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), berpendapat bahwa sorgum lebih unggul dari segi potensi persaingan kepentingan antara pangan dan energi.
“Sorgum itu hampir tidak ada persaingan, kecuali nanti kalau pangan kita kurang,” ujar Irham di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Menurut Irham, kebutuhan bioetanol dari tebu berpotensi bersaing dengan produksi gula sebagai kebutuhan pangan utama. Sementara itu, bioetanol dari singkong harus bersaing dengan berbagai produk turunan pangan seperti tapioka.
Ketika ketersediaan pangan di Indonesia terjaga, potensi sorgum dapat sepenuhnya diarahkan untuk produksi bioetanol. Nira batang sorgum dapat menghasilkan sekitar 2.300 liter etanol per hektar per musim tanam, sementara biji sorgum menghasilkan sekitar 1.800 liter etanol per hektar per musim tanam.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa potensi hasil etanol dari sorgum manis per hektar bisa lebih tinggi, tergantung varietasnya. Sebagai contoh, varietas unggul bioguma (agritan) dilaporkan dapat menghasilkan 2.000-4.000 liter etanol per hektar dengan kadar gula kurang dari 15,5 persen. Potensi biomassa dari varietas ini bahkan bisa mencapai 46-50 ton per hektar.
“Pangan kita sebenarnya sudah oke, maka sorgum bisa kita konsentrasikan ke bioetanol, sorgum manis itu konversi ke bioetanol besar itu. Sorgum ini kan bisa dipakai untuk pangan juga dan nanti bio product-nya bisa untuk pakan ternak. Jadi, ternak dapat, manusianya dapat, bioetanol, energinya dapat,” tambah Irham.
Ikuti Akses.co.id
