Megapolitan

Tak Ingin “Happy Ending” Sendirian, Pak Guru Azis Minta Nasib Honorer Lain Juga Dibenahi

Advertisement

JAKARTA, Kompas.com — Abdul Azis (45), seorang guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1, Penjaringan, Jakarta Utara, menerima hadiah sepeda motor baru dari relawan. Namun, di balik kebahagiaannya, Azis menekankan bahwa persoalan kesejahteraan guru honorer tidak boleh hanya berhenti pada simpati publik.

Ia menilai akar masalah kesejahteraan guru honorer terletak pada gaji yang rendah, tidak sebanding dengan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Azis berharap perhatian publik dan pemerintah tidak hanya tertuju pada kisahnya yang viral, tetapi berlanjut pada kebijakan yang konkret.

“Saya mau minta kepada pemerintah agar bisa tetap melihat kondisi ekonomi guru-guru honorer, apalagi boleh dikatakan sangat-sangat tidak mencukupi lah dalam kebutuhan sehari-hari,” ujar Azis saat ditemui di sekolahnya, Rabu (22/4/2026).

Dengan pengabdian selama sembilan tahun dan gaji sekitar Rp 2 juta per bulan, Azis mengaku memahami beratnya bertahan hidup di Jakarta. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kondisi guru honorer dalam penyusunan kebijakan pendidikan.

Desak Kemudahan Sertifikasi dan Pengangkatan Honorer

Azis, yang mengajar mata pelajaran Akidah Akhlak, Fikih, Seni Budaya, dan Tahfidz, memiliki sejumlah gagasan kebijakan untuk memperbaiki nasib guru honorer. Menurutnya, langkah paling mendesak adalah mempermudah akses peningkatan karier bagi guru honorer di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) maupun Dinas Pendidikan melalui sertifikasi.

“Harapan saya untuk pemerintah bisa yang pertama itu, terutama untuk yang di Kemenag ya, kan biasanya berkaitan dengan sertifikasi. Agar diperhatikan untuk guru-guru yang belum sertifikasi bisa dibantu untuk ke sana, secepatnya lah,” jelas Azis.

Ia juga berharap guru-guru di bawah Dinas Pendidikan dapat dibantu dalam proses pengangkatan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau skema lainnya agar kebutuhan ekonomi mereka terpenuhi.

Advertisement

Selain itu, Azis mengusulkan agar pemerintah menyiapkan alternatif bantuan jika kuota sertifikasi maupun pengangkatan menjadi PPPK atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) terbatas. Bantuan tersebut bisa berupa program tunjangan bulanan bagi guru honorer.

Kisah Viral dan Ucapan Syukur

Sebelumnya, kisah Azis menjadi sorotan publik setelah ia harus mengayuh sepeda lipat pinjaman sejauh enam kilometer setiap hari dari Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, menuju Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Perjalanan ini dilakukannya setelah sepeda motor lamanya dicuri pada November 2025.

Melalui donasi yang diinisiasi oleh organisasi Relawan Gerak Bareng, Azis akhirnya menerima sebuah sepeda motor baru.

“Alhamdulillah ya, bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala ada orang baik yang banyak mau berpartisipasi sehingga bisa memberikan motor kepada saya. Saya sangat berterima kasih sekali dan juga sangat bersyukur sekali,” ucap Azis.

Kendaraan baru ini diharapkan dapat sangat membantu mobilitasnya, baik untuk berangkat ke sekolah maupun mengajar di majelis taklim yang menjadi sumber pemasukan tambahannya.

Advertisement