Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat ketahanan energi nasional dengan memastikan pasokan minyak mentah dan liquefied petroleum gas (LPG). Selain telah mengamankan komitmen pasokan dari Rusia, Indonesia juga tetap membutuhkan dan akan meningkatkan impor energi dari Amerika Serikat (AS).
Sebelumnya, Indonesia telah menerima komitmen pasokan minyak mentah dari Rusia. Khusus untuk minyak, negara ini berencana mengimpor sebanyak 150 juta barrel dari negara yang dipimpin Vladimir Putin tersebut. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa impor minyak mentah dan LPG dari AS sebenarnya sudah berlangsung lama. Perjanjian baru yang disepakati akan mendorong peningkatan volume komoditas energi dari negara Paman Sam itu.
Indonesia berkomitmen membeli komoditas energi dari AS senilai 15 miliar dollar AS. Nilai ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara kedua negara.
“Kan kita sudah ada impor dari Amerika baik crude maupun LPG. Jadi ya kita berusaha untuk meningkatkan sebagai pemenuhan komitmen kita di ART,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Yuliot memberikan contoh, sekitar 60 persen dari total impor LPG Indonesia yang mencapai sekitar 7 juta ton, berasal dari AS. Pemerintah berupaya meningkatkan porsi ini sebagai bagian dari komitmen dalam kerja sama perdagangan.
Saat ini, tim dari PT Pertamina (Persero) tengah berada di Amerika Serikat. Mereka bertugas untuk menjajaki perusahaan-perusahaan yang mampu memasok kebutuhan energi Indonesia dalam waktu cepat, sekaligus membahas skema pengiriman yang efisien.
Koordinasi Lintas Kementerian dan Duta Besar
Upaya pemenuhan komitmen pasokan energi ini juga melibatkan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) serta sejumlah duta besar Indonesia di luar negeri.
“Kita kan juga memiliki komitmen dengan Amerika. Jadi pagi tadi saya juga rapat dengan Kemlu dan juga dengan beberapa dubes, itu juga atas komitmen itu. Tim dari Pertamina kan juga lagi ada di Amerika sekarang,” ungkap Yuliot.
Ia menambahkan, harapan utama dari kunjungan tim Pertamina ke AS adalah untuk mengidentifikasi perusahaan yang dapat segera memenuhi kebutuhan pasokan, serta memastikan kelancaran proses pengiriman. “Jadi perusahaan-perusahaan mana yang bisa mensuplai kita dalam waktu cepat dan juga bagaimana pengiriman. Ya kita harapkan itu berbagai sumber untuk kebutuhan crude kita, dan juga untuk kebutuhan LPG dalam negeri itu bisa terpenuhi,” pungkas Yuliot.
Ikuti Akses.co.id
