BANDUNG, KOMPAS.com — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa maraknya kemunculan ikan sapu-sapu di sejumlah sungai yang berbatasan dengan Jakarta merupakan indikator penurunan kualitas air. Ia menekankan bahwa penanganan masalah ini tidak cukup hanya dengan menangkap ikan tersebut, melainkan harus dibarengi dengan perbaikan kualitas air sungai.
Menurut Dedi, ikan sapu-sapu mampu bertahan hidup dan berkembang biak di perairan yang kualitasnya menurun. “Sapu-sapu itu tumbuh manakala sungainya sudah mengalami penurunan kualitas. Jadi kalau sungainya mengalami penurunan kualitas, maka ikan yang hidup itu hanya sapu-sapu,” jelasnya saat ditemui di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (22/4/2026).
Kondisi ini menyebabkan ikan-ikan endemik yang membutuhkan air bersih kesulitan berkembang dan kalah bersaing dengan ikan sapu-sapu. “Jadi kalau ingin menghilangkan sapu-sapu ada dua hal: pertama sapu-sapunya harus diangkat, kedua kualitas airnya harus diperbaiki agar ikan-ikan endemiknya hidup lagi,” tegas Dedi.
Ia menambahkan bahwa jika kualitas air sungai membaik, ikan-ikan asli daerah tersebut diprediksi akan kembali berkembang dan mampu menyaingi dominasi ikan sapu-sapu.
Warga Telah Berupaya Menangkap Ikan Sapu-Sapu
Dedi Mulyadi juga mengakui bahwa warga di beberapa wilayah Jawa Barat telah secara mandiri berupaya mengurangi populasi ikan sapu-sapu dengan menangkapi mereka dari sungai. “Kalau selama ini juga sapu-sapu sudah diambilin oleh warga Jabar,” ungkapnya.
Kendati demikian, Dedi kembali menegaskan bahwa upaya penangkapan ikan sapu-sapu oleh warga, meskipun membantu, bukanlah solusi utama. Perbaikan kualitas air sungai tetap menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini secara berkelanjutan.






