— Sutradara film dokumenter kontroversial “Leaving Neverland”, Dan Reed, melontarkan kritik pedas terhadap industri hiburan yang dinilainya cenderung mengabaikan tuduhan pelecehan seksual terhadap anak yang pernah membelit mendiang Michael Jackson. Reed menilai publik dan Hollywood kini seolah tak lagi mempersoalkan isu yang sempat kembali mengemuka setelah perilisan filmnya pada 2019.

“Leaving Neverland”, yang tayang di HBO, menampilkan kesaksian dua pria, Wade Robson dan James Safechuck, yang mengaku mengalami pelecehan seksual saat masih kanak-kanak di Encino, California. Film dokumenter ini sempat memenangkan penghargaan Emmy, meskipun mendapat bantahan keras dari pihak keluarga Jackson.

Namun, tujuh tahun berselang, lanskap penerimaan terhadap warisan Michael Jackson tampak berubah. Popularitas musik sang “King of Pop” kembali melonjak, musikal “MJ The Musical” meraih kesuksesan besar di Broadway, dan film biopik berjudul “Michael”, yang disutradarai oleh Antoine Fuqua, diprediksi menjadi salah satu film terlaris tahun ini.

Reed melihat fenomena ini sebagai indikasi bahwa publik memilih untuk memisahkan karya seni dari kontroversi pribadi sang artis. “Orang-orang hanya tidak peduli,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang dikutip pada Jumat (24/4/2026). Ia berpendapat banyak penggemar tetap menikmati musik Jackson tanpa mempertimbangkan tuduhan serius yang pernah muncul.

Lebih lanjut, Reed menyoroti bahwa film “Leaving Neverland” kini tidak lagi tersedia di HBO, menyusul kesepakatan hukum antara pihak HBO dan estate Michael Jackson. Meski begitu, Reed mengungkapkan bahwa lisensi film tersebut hanya berlaku hingga tahun 2029, membuka kemungkinan perilisan kembali di platform lain di masa mendatang.

Kritik Terhadap Film Biopik Michael Jackson

Reed mengaku sulit memahami bagaimana sebuah film biopik dapat mengisahkan kehidupan Michael Jackson tanpa menyentuh kontroversi besar yang pernah menyertainya. Ia menduga ada kepentingan industri dan ekonomi yang mendorong sebagian pihak untuk memilih “mengabaikan” sisi gelap sang bintang.

“Saya pikir ini adalah pertanyaan tentang kepentingan industri dan ekonomi yang membuat orang-orang memilih untuk menutup mata,” kata Reed, merujuk pada kecenderungan untuk mengabaikan kontroversi tersebut.

Di sisi lain, Reed mengakui bahwa musik Michael Jackson telah terjalin erat dalam kehidupan banyak orang, membuat sebagian publik enggan mengaitkan karya sang musisi dengan tuduhan yang ada. “Musik Michael Jackson sangat besar dan penting bagi begitu banyak orang, dan saya pikir itulah mengapa orang-orang merasa tidak nyaman untuk mengaitkan apa pun yang terjadi dengan musiknya,” jelasnya.

Meskipun demikian, Reed menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyerukan boikot terhadap karya Michael Jackson. Ia hanya berharap agar publik dapat melihat sosok Michael Jackson secara utuh, baik sebagai entertainer besar maupun sebagai figur yang kontroversial.