ABU DHABI, KOMPAS.com – Upaya membangun kembali kepercayaan antara Iran dan negara-negara di kawasan Teluk diprediksi akan memakan waktu yang sangat lama. Penasihat Diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar bin Mohammed Gargash, menekankan adanya perbedaan mendasar antara sekadar memulihkan hubungan diplomatik dan memulihkan kepercayaan pasca serangkaian serangan yang dilancarkan Iran.

Berbicara melalui tautan video dalam sebuah konferensi kebijakan publik yang diselenggarakan Institut Hubungan Internasional Prancis, Gargash menganggap tidak realistis untuk membicarakan kepercayaan setelah Iran meluncurkan sekitar 2.800 rudal dan drone. “Membangun kembali hubungan adalah satu hal, membangun kembali kepercayaan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda,” ujarnya, seperti dilansir Gulf News, Sabtu (25/4/2026). Ia menambahkan, luka yang ditimbulkan oleh serangan-serangan Iran kemungkinan membutuhkan beberapa generasi untuk pulih.

Iran Dianggap Musuh Utama oleh Negara Teluk

Pandangan Gargash ini selaras dengan pernyataan sebelumnya yang menyebutkan bahwa negara-negara Teluk memiliki persepsi berbeda terhadap Iran, bahkan menganggapnya sebagai musuh utama. “Kami sepenuhnya menyadari posisi banyak masyarakat Arab yang memandang Israel sebagai musuh utama, tetapi pandangan di negara-negara Teluk mungkin berbeda,” ujar Gargash dalam konferensi pers, Kamis (16/4/2026).

Gargash menjelaskan, Iran merupakan pihak yang secara aktif menyerang negara-negara Teluk dengan ribuan rudal dan drone. “Dan karena alasan ini kami tidak mempercayainya, dan kami memandangnya sebagai musuh utama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gargash menegaskan bahwa UEA memiliki tuntutan serupa dengan Teheran terkait permintaan jaminan dan ganti rugi atas kerusakan perang. Tindakan Iran dinilai sebagai serangan luas yang mengancam stabilitas regional, bahkan menargetkan negara-negara Teluk yang berperan sebagai mediator dalam menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi.

“Rezim Iran telah menyerang semua orang di Teluk, bahkan mereka yang bertindak sebagai perantara,” kata Gargash.

Perlu dicatat, selama periode konflik, Teheran berulang kali melancarkan serangan ke kawasan Teluk. Serangan-serangan tersebut dilancarkan sebagai respons atas tuduhan Iran bahwa negara-negara Teluk mengizinkan pasukan Amerika Serikat (AS) untuk melakukan serangan dari wilayah mereka.