Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Earth’s Future mengungkap potensi besar rumput berakar dalam dalam menyimpan karbon di tanah, sebuah temuan yang dapat memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini menemukan bahwa jenis rumput seperti switchgrass mampu menyerap lebih banyak karbon dibandingkan tanaman berakar dangkal, tanpa mengorbankan materi organik yang sudah ada di dalam tanah.
Temuan ini, yang dikutip dari Phys.org pada Rabu (22/4/2026), menunjukkan bahwa rumput switchgrass berhasil menyimpan tambahan sekitar 0,58 metrik ton karbon per hektar pada bagian akarnya, dibandingkan dengan tanaman tahunan yang memiliki sistem perakaran dangkal.
Peran Tanaman Berakar Dalam
Eric Slessarev, penulis utama studi dari Yale University, menegaskan bahwa hasil penelitian ini semakin memperkuat pemahaman mengenai peran krusial tanaman berakar dalam terhadap kesehatan tanah. “Secara keseluruhan, ini memperkuat gagasan bahwa rumput berakar dalam dapat bermanfaat bagi kesehatan tanah. Perbedaannya sangat mencolok,” ujar Slessarev.
Selain kemampuan menyimpan karbon, rumput berakar dalam juga berkontribusi positif dalam meningkatkan kandungan nutrisi tanah dan mencegah terjadinya erosi. Kedalaman akar yang dapat mencapai 1,5 hingga 3 meter memungkinkan penyerapan karbon organik pada lapisan tanah yang lebih dalam dan cenderung lebih stabil.
Temuan ini sejalan dengan asumsi lama yang menyebutkan bahwa tanaman berakar dalam memiliki potensi manfaat iklim yang lebih besar dibandingkan dengan tanaman pertanian konvensional. Lebih lanjut, penelitian ini juga menyoroti potensi pemanfaatan tanaman berakar dalam sebagai sumber bahan baku bioenergi yang lebih berkelanjutan.
Keunggulan Dibanding Tanaman Konvensional
Berbeda dengan tanaman seperti jagung yang berpotensi menguras kesuburan tanah, switchgrass dinilai lebih ramah terhadap ekosistem tanah. Slessarev menambahkan, “Jika kita dapat menemukan peran bagi tanaman berakar dalam dalam perekonomian yang lebih luas, itu akan bermanfaat bagi semua pihak.”
Penelitian ini dilaksanakan di 12 lokasi yang tersebar di sembilan negara bagian Amerika Serikat, meliputi Oklahoma, Texas, hingga Wisconsin. Tim peneliti berhasil mengumpulkan lebih dari 700 sampel inti tanah untuk membandingkan kondisi tanah di bawah tutupan rumput berakar dalam dengan tanaman berakar dangkal.
Metode analisis yang digunakan melibatkan isotop radiokarbon untuk mengidentifikasi bagaimana akar tanaman memengaruhi komposisi kimia tanah pada berbagai kedalaman.
Tanah sebagai Kunci Mitigasi Iklim
Para peneliti menekankan bahwa proses penyimpanan karbon di dalam tanah, terutama pada lapisan yang lebih dalam, masih memerlukan pemahaman lebih lanjut. Namun, temuan ini membuka jalan bagi penelitian lanjutan dan secara signifikan memperkuat peran sektor pertanian serta penggunaan lahan dalam mendukung pengurangan emisi karbon global.
Dengan pemanfaatan tanaman berakar dalam, tanah tidak hanya berfungsi sebagai media tumbuh tanaman, tetapi juga menjadi penyerap karbon yang esensial dalam menghadapi krisis iklim.






