Akses.co.id — Kota Solo tidak masuk dalam daftar 10 besar kota paling toleran di Indonesia versi Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis oleh Setara Institute. Dalam rilis tersebut, Kota Salatiga menempati peringkat teratas dengan skor 6,492, diikuti oleh Singkawang di posisi kedua (6,391), dan Semarang di urutan ketiga (6,160). Sementara itu, Solo menduduki peringkat ke-12 dengan skor akhir 5,577.
Setara Institute mendefinisikan kota toleran sebagai wilayah yang memiliki visi dan rencana pembangunan inklusif, ditunjang oleh regulasi yang mendukung praktik dan promosi toleransi, serta kepemimpinan yang progresif. Indikator lainnya meliputi rendahnya tingkat intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan, serta upaya berkelanjutan dalam mengelola keberagaman dan mendorong inklusi sosial.
Solo Berkomitmen untuk Berbenah
Menanggapi hasil IKT 2025, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, menyatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Solo akan segera melakukan evaluasi. Tujuannya adalah agar Kota Solo dapat meraih peringkat yang lebih baik di masa mendatang.
“Maka dari itu kami akan berbenah supaya tahun depan kita mendapatkan hasil yang lebih baik dari Setara Institute,” kata Gibran di Solo, Jawa Tengah, Kamis (23/4/2026).
Gibran menegaskan bahwa toleransi merupakan landasan utama dalam menjaga perdamaian dan kondusivitas di Kota Solo. Oleh karena itu, IKT yang dirilis Setara Institute menjadi catatan penting bagi Pemkot untuk melakukan perbaikan.
“Toleransi di Kota Solo harga mati bagi kami. Ketertiban harga mati bagi kami. Kami terus berupaya merapikan di dinas kami, untuk Setara Institut terima kasih ini menjadi motivasi bagi kami untuk meningkatkan toleransi,” ungkap Gibran.
Lebih lanjut, Gibran memastikan bahwa Pemkot Solo menjamin setiap warga untuk dapat melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.
“Kami menjamin setiap warga bisa beribadah sesuai dengan tuntunannya masing-masing. Kami sangat menjamin 100 persen,” tegas Gibran.
Pemerintah Kota Solo juga memberikan dukungan penuh terhadap perayaan keagamaan berbagai umat dan menjamin kebebasan mereka di ruang publik. Gibran mencontohkan berbagai kegiatan yang telah diselenggarakan.
“Waisak ada. Karena Nyepi kemarin waktunya bertepatan ya ramai dengan Imlek dan lain-lain. Biar masyarakat yang menilai apakah ada kesulitan dalam melakukan kegiatan. Dan kami ada festival besar di Waisak. Intinya kami menjamin kebebasan, bisa beribadah dengan baik dan event keagamaan kemarin baru pertama kali ada open house Paskah dan dihadiri Monsinyur,” jelasnya.
Ikuti Akses.co.id
