— Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa segala bentuk kecurangan dalam Ujian Tertulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Pernyataan ini disampaikan Brian saat memantau langsung pelaksanaan UTBK SNBT 2026 di Universitas Tanjungpura (Untan) pada Jumat (24/4/2026).

“Terus menerus kita ingatkan, bahwa modus kecurangan apapun pasti akan diketahui oleh panitia. Pelakunya akan diproses sesuai ketentuan hukum,” ujar Brian, mengutip laman resmi Kemendiktisaintek pada Minggu (26/4/2026).

Brian menambahkan, pelaksanaan UTBK 2026 di Untan berjalan lancar berkat sistem pengawasan yang semakin ketat, yang dinilainya efektif mencegah terjadinya pelanggaran. “Hari keempat, alhamdulillah tentu sudah sangat lancar dibandingkan hari pertama. Dari berbagai pengalaman, panitia sudah mengantisipasi seluruh potensi-potensi kecurangan,” tuturnya.

Ia menekankan komitmen Kemendiktisaintek untuk menjaga integritas seluruh proses UTBK SNBT 2026. Menurutnya, penegakan aturan ini sangat penting demi menjamin keadilan bagi seluruh peserta.

“Jadi untuk adik-adik calon siswa, silahkan mengikuti ujian dengan baik, percaya dengan kemampuan diri sendiri,” pesan Brian kepada para peserta.

Temuan Kecurangan di Hari Pertama UTBK SNBT 2026

Sebelumnya, pada hari pertama penyelenggaraan UTBK 2026, Selasa (21/4/2026) sesi pertama, telah terdeteksi adanya upaya kecurangan yang dilakukan oleh peserta. Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemendikti Saintek.

“Pada pagi hari ini sampai dengan pukul 09.00 WIB kami telah mendapatkan informasi berbagai macam kecurangan yang coba dilakukan peserta UTBK di beberapa Pusat UTBK,” ujar Eduart di Media Center Pusat UTBK Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Eduart memastikan bahwa Pusat UTBK UNJ aman dari tindakan kecurangan tersebut. “Yang pertama kita dapatkan kejadian di Pusat UTBK Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Kecurangannya berupa indikasi ingin menggunakan alat bantu. Jadi alat bantu ini disembunyikan di pakaian dan sebagainya dan alhamdulillah bisa kita deteksi,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa peserta yang terbukti melakukan kecurangan akan diproses sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan. Berdasarkan bukti foto yang ditampilkan, meskipun disensor, tampak dua orang peserta perempuan terdeteksi melakukan kecurangan.

“Ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi sengaja dia, orang yang sama mengikuti UTBK 2025, itu ikut lagi di 2026 dengan nama yang berbeda untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama ikut ujian 2025 dan 2026 untuk dua nama. Jadi udah pasti merupakan joki yang mengganti,” ungkap Eduart.

Eduart menambahkan bahwa modus joki ini dapat diketahui berdasarkan bukti dari tahun sebelumnya yang dikembangkan dalam penyelidikan. Kembali, dua peserta perempuan yang datanya dipilih oleh panitia menjadi indikasi kecurangan tersebut.

Selain di Unsulbar, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Airlangga (Unair), dan UPN Veteran Jawa Timur.