— Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menargetkan penempatan 80.000 pekerja migran Indonesia ke luar negeri pada tahun 2026 melalui program SMK Go Global. Program ini juga diproyeksikan akan terus mengirimkan 140.000 pekerja setiap tahunnya mulai tahun 2027 hingga 2029.

“Insya Allah target kita adalah penempatan, 80.000 (orang) tahun ini insya Allah. Tahun berikutnya 140.000, 140.000,” ujar Menteri P2MI, Mukhtarudin, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).

Tiga Tahap Program SMK Go Global

Mukhtarudin menjelaskan bahwa kesiapan program ini didukung oleh pemetaan peluang kerja di negara-negara tujuan penempatan. Program SMK Go Global dirancang dalam tiga tahapan utama: latih, kompeten, dan ditempatkan.

“Jadi ini sudah link and match. Sudah dipersiapkan sektor apa, kompetensi apa, dilatih seperti apa, pesertanya seperti apa, karena melalui program upskilling,” tegas Mukhtarudin.

Dukungan Pemerintah dan Potensi Daerah

Keberhasilan program SMK Go Global dinilai sangat bergantung pada dukungan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pada kesempatan yang sama, KP2MI menandatangani kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk memperkuat perlindungan pekerja migran, mulai dari pra-keberangkatan, saat bekerja, hingga pasca-kerja.

Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, Femmy Suluh, mengungkapkan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 30.000 lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayahnya.

“Lulusan SMK ada (potensi) yang paling banyak pertanian, kemudian caregiver atau keperawatan, pengolahan makanan, konstruksi juga, dan perhotelan pariwisata. Itu yang banyak diminati oleh negara-negara,” ungkap Femmy.