— Kemenangan telak 5-0 tim putra Indonesia atas Aljazair dalam laga pembuka Grup D Piala Thomas 2026 pada Jumat (24/4/2026) di Denmark, tak pelak membangkitkan memori manis para pecinta bulu tangkis Tanah Air. Skor identik ini mengingatkan pada partai pembuka Indonesia di Piala Thomas 2020, yang juga berakhir dengan kemenangan 5-0 atas lawan yang sama, Aljazair, sebelum akhirnya Indonesia keluar sebagai juara.

Dalam pertandingan yang berlangsung hari ini, Jonatan Christie membuka keunggulan bagi Indonesia dengan mengalahkan Adel Hamek melalui dua gim langsung, 21-8 dan 21-16. Alwi Farhan melanjutkan tren positif dengan menundukkan Abderrahmie Belarbi (21-8, 21-7), diikuti oleh Anthony Sinisuka Ginting yang mempersembahkan poin ketiga setelah mengalahkan Abdelaziz Ouchefoun dengan skor meyakinkan 21-8, 21-6. Kemenangan 5-0 kemudian dikunci oleh dua pasangan ganda putra.

Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri sukses mengatasi perlawanan Abderrahmie Belarbi/Koceila Mammeri dengan skor 21-14, 21-8. Sementara itu, pasangan Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin tampil dominan menghadapi Adel Hamek/Abdelaziz Ouchefoun, menang telak 21-4, 21-7. Hasil ini menempatkan Indonesia di puncak klasemen sementara Grup D, mengungguli Thailand dan Prancis.

Deja Vu Piala Thomas 2020

Skor 5-0 dan menghadapi Aljazair sebagai lawan pertama di fase grup memang bukan kali pertama bagi Indonesia di Piala Thomas. Kejadian serupa pernah terulang pada Piala Thomas 2020, yang sejatinya digelar pada tahun 2021 akibat pandemi COVID-19. Saat itu, Indonesia yang diperkuat skuad bertabur bintang seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, Anthony Ginting, dan Jonatan Christie, tergabung di Grup A bersama Taiwan, Thailand, dan Aljazair.

Dalam gelaran tersebut, pertandingan melawan Aljazair pada 9 Oktober 2021, dianggap sebagai “pemanasan” bagi tim Merah Putih mengingat perbedaan ranking dunia dan kualitas permainan yang begitu signifikan. Indonesia berhasil menyapu bersih lima pertandingan dengan skor 5-0.

Strategi dan Hasil di 2020

Menariknya, pada Piala Thomas 2020, strategi penyimpanan pemain andalan sempat diterapkan. Anthony Ginting, yang kala itu masih menjadi tunggal pertama, tidak diturunkan. Posisinya digantikan oleh Jonatan Christie, sementara tunggal kedua dan ketiga diisi oleh Shesar Hiren Rhustavito dan Chico Aura Dwi Wardoyo.

Jonatan Christie sukses mengalahkan Youcef Sabri Medel dengan skor kembar 21-8, 21-8. Shesar Hiren Rhustavito kemudian mengalahkan Abderrahime Belarbi (21-6, 21-12), dan Chico Aura Dwi Wardoyo menaklukkan Adel Hamek (21-11, 21-6). Di sektor ganda, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan mengalahkan Koceila Mammeri/Youcef Sabri Medel (21-9, 21-15), serta Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin membungkam Belarbi/Hamek (21-3, 21-11).

Kemenangan telak di laga pertama tersebut terbukti menjadi pembuka jalan mulus bagi Indonesia. Setelah mengalahkan Aljazair, Indonesia melanjutkan tren positif dengan menaklukkan Thailand (3-2) dan Taiwan (3-2) untuk lolos sebagai juara grup. Langkah Indonesia tak terbendung hingga perempat final melawan Malaysia (3-0), semifinal melawan Denmark (3-1), dan akhirnya menjuarai Piala Thomas 2020 dengan mengalahkan China (3-0) di final, mengakhiri penantian 19 tahun gelar juara.

Kesuksesan serupa di Piala Thomas 2020, yang juga digelar di Denmark, tentu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi Jonatan Christie dan rekan-rekannya untuk kembali mengulang kejayaan di edisi 2026 ini.