— Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) sederajat telah dimulai sejak 20 April 2026 dan akan berlangsung hingga 30 April 2026. Pelaksanaan tes ini mencakup seluruh sekolah di Indonesia, termasuk sekolah berstandar internasional.

Di Bekasi, Jawa Barat, Jason (11), seorang siswa kelas 6 di sekolah bertaraf internasional, mengikuti TKA yang diselenggarakan dalam beberapa gelombang. Jason yang mengikuti tes pada Rabu (22/4/2026) dan Kamis (23/4/2026) mengaku tidak terlalu kesulitan berkat persiapan matang melalui simulasi latihan.

“Aku latihan di simulasi,” kata Jason kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026). Meskipun keseharian di sekolah menggunakan Bahasa Inggris, hal itu tidak menghalanginya mengerjakan soal TKA.

“Soalnya biasa medium (tingkat kesulitannya),” ujarnya. Namun, ia mengakui Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang paling menantang baginya, berbeda dengan Matematika yang dapat ia selesaikan dengan baik meskipun soalnya panjang.

Senada dengan Jason, Michelle, siswa SD Intan Permata Hati, juga rutin berlatih soal TKA baik di sekolah maupun di rumah. Latihan melalui lembar kerja dan media lain, didukung oleh guru yang siap membantu, membuatnya lebih memahami materi.

“Jadi kita bisa belajar di rumah sama di sekolah juga sekalian sama guru. Jika kita enggak ngerti, kita bisa tanya guru untuk lebih tahu penjelasannya nanti guru akan menjelaskan lebih dalam,” ungkap Michelle dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).

Kepala Sekolah SD Intan Permata Hati, Dewa Made, menyatakan sekolahnya telah mempersiapkan TKA secara matang melalui simulasi dan gladi bersih. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) turut memastikan kelancaran persiapan.

“Saat ini kami melakukan TKA dengan persiapan yang begitu intensif. Anak-anak kami bekali dengan simulasi, dan gladi bersih. Puji Tuhan selama kami melakukan persiapan ini semua dalam keadaan lancar, berjalan dengan baik,” jelas Dewa.

Sementara itu, Ilham Hafidz, siswa SD lainnya, sempat merasa tegang saat memasuki laboratorium komputer untuk TKA. “Pertama masuk lab itu menegangkan,” kata Ilham dikutip dari akun Instagram resmi @bbpmpjateng, Selasa (21/4/2026).

Meskipun begitu, Ilham mampu mengerjakan soal TKA dengan lancar dan menilai soal tersebut mudah. “Saat pengerjaan itu mudah bagi saya,” lanjut Hafidz.

Aliyah Shidqyah juga berpendapat serupa, meskipun sempat merasa pusing melihat banyaknya angka dalam soal Matematika. “Agak pusing juga lihat angka yang lumayan banyak. Tapi gampang kok ngerjainnya juga enggak susah-susah banget,” ujar Aliyah.

Keluhan Siswa dan Sekolah tentang Soal TKA

Di Sleman, Yogyakarta, sejumlah siswa menilai soal TKA sulit, khususnya pada tipe Multiple Choice Multi Answer (MCMA). Beberapa siswa tidak mampu menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan.

Ita, salah satu orang tua siswa, menyampaikan anaknya hanya bisa menjawab 25 dari 30 soal Matematika. “Katanya susah, bingung, ada yang belum diajarkan juga. Malah katanya ada materi SMP juga,” katanya, dikutip dari Tribun Jogja Kamis (23/4/2026).

Kondisi ini, menurut Ita, membuat siswa tertekan. “Ada juga yang sampai menangis karena tidak bisa. Ya kasihan kepada yang dapat soal sulit. Apalagi hasil TKA ini kan juga dipakai untuk mendaftar SMP,” lanjutnya.

Keluhan serupa datang dari Kepala SD Negeri Sinduadi 1, Haryanto. Ia menyebut tipe soal MCMA menjadi kendala utama. “Keluhan hampir sama terkait soal, khususnya soal matematika dari pusat, soal tipe MCMA memang penskoran dan bobot sangat memberatkan,” kata Haryanto.

Haryanto menjelaskan, TKA menggunakan dua tipe soal: pilihan ganda biasa dan MCMA, dengan sistem pengacakan paket soal untuk setiap siswa. Tingkat kesulitan materi juga menjadi sorotan.

Shinta Hera Natalia, guru SD Karitas, membenarkan keluhan siswa, terutama pada Matematika. “Nggih, (murid mengeluh soalnya susah) terutama matematika, soalnya seperti mau mengikuti olimpiade,” ujarnya.

Sistem Computer Based Test (CBT) dengan token membuat setiap siswa mendapatkan soal secara acak, sehingga pengalaman mengerjakan soal bervariasi. Disti, siswa kelas 6 SD di Sleman, merasa tidak adil karena mendapatkan soal yang lebih sulit dibanding teman-temannya.

“Menurutku materi yang belum pernah aku pelajari, sebelumnya. Nah kata teman-temanku yang lainnya, materinya itu mudah-gampang gitu,” ujarnya. “Jadi (merasa) gak adil. Karena ada temanku yang misalnya gak dapat Luas, sedangkan aku dapat materinya Luas yang susah banget gitu,” katanya.

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Sleman, Rira Meuthia, menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA mengacu pada kebijakan pemerintah pusat. “Adapun kontribusi soal yang diberikan daerah pada soal yang diujikan pada pelaksanaan TKA, ditentukan oleh Panitia TKA Pusat (Kemendikdasmen),” jelas Rira.

Ia menegaskan bahwa penyusunan instrumen TKA melibatkan pemerintah pusat dan daerah sesuai ketentuan yang berlaku.

Perjuangan Siswa Mengarungi Laut untuk TKA

Di luar persoalan soal, terdapat cerita perjuangan siswa untuk mengikuti TKA. Salah satunya dialami oleh siswa kelas 6 SD Negeri Awado, Kepulauan Yapen, Papua, yang harus mengarungi laut untuk mencapai lokasi tes.

Kepala SD Negeri Awado, Muhajir, menuturkan bahwa sekolahnya melaksanakan TKA di SD Integral Lukman Al Hakim Serui. Perjalanan menggunakan perahu di laut memakan waktu empat hingga enam jam, tergantung kondisi ombak.

“Jika laut sedang tenang, kami bisa sampai di Serui dalam waktu empat jam, namun bisa mencapai enam jam jika ombak besar,” kata Muhajir dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).

Setibanya di Serui, Muhajir dan rombongan harus mencari penginapan untuk anak-anak. Meskipun perjalanan berat, semangat siswa tetap tinggi.

“Setibanya di Serui, kami juga harus mencari tempat menginap bagi anak-anak. Meski penuh tantangan, semangat murid kami tetap tinggi untuk mengikuti TKA,” ujarnya.

Andai Darling Woraba, salah satu murid SDN Awado, menilai TKA penting untuk menentukan masa depan. Oleh karena itu, ia tetap bersemangat mengikuti tes meskipun harus mengarungi lautan.

“Kami tetap semangat mengikuti TKA karena ini membantu kami mengetahui kemampuan akademik dan menjadi bekal untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya,” ungkapnya.

Kepala SD Integral Lukman Al Hakim Serui, Mahfud Fauzi, memastikan kesiapan peserta didik. Guru dan murid siap mengikuti TKA, serta berkoordinasi intensif dengan dinas pendidikan. Dukungan orang tua juga sangat besar, termasuk meminjamkan perangkat komputer atau laptop jika diperlukan.

“Koordinasi dengan dinas terkait juga telah kami lakukan untuk menjamin ketersediaan listrik dan internet. Dukungan orang tua juga sangat besar, bahkan di antara mereka bersedia meminjamkan perangkat komputer atau laptop jika terjadi keterbatasan di sekolah,” jelas Mahfud.