Global

Selat Hormuz Jadi Arena AS dan Iran untuk Saling Tunjukkan Pengaruh

Advertisement

TEHERAN – Di tengah ketidakpastian perundingan tahap kedua antara Amerika Serikat dan Iran yang belum membuahkan hasil, serta perpanjangan gencatan senjata, tensi kedua negara kini bergeser ke ranah maritim, khususnya di Selat Hormuz. Keduanya berlomba menunjukkan kekuatan dan kemampuan untuk menekan lawannya melalui jalur perairan vital tersebut.

Pakistan sendiri masih optimistis bahwa jalur diplomasi melalui pembicaraan di Islamabad belum tertutup sepenuhnya. Komunikasi positif masih terus terjalin antara Washington dan Teheran, meski belum ada kepastian kapan negosiasi lanjutan akan digelar. Namun, selagi menunggu, medan pertempuran pengaruh seolah berpindah dari darat ke laut.

Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur perairan paling strategis di dunia, kini menjadi arena adu kekuatan militer yang diwujudkan dalam bentuk diplomasi blokade. Laporan The Guardian pada Kamis (23/4/2026) menyebutkan bahwa AS dan Iran saling unjuk gigi dalam menegakkan blokade, masing-masing ingin membuktikan keunggulan dalam menekan pihak lain.

Diplomasi Blokade di Selat Hormuz

Iran berupaya mengirimkan pesan tegas kepada dunia dengan cara menutup, menembaki, bahkan menyita kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Tindakan ini menunjukkan ambisi Teheran untuk mempertahankan kendali atas perekonomian global yang sangat bergantung pada jalur suplai energi.

Di sisi lain, Amerika Serikat merespons dengan strategi yang lebih mendesak. Melalui blokade terhadap kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran, Washington berupaya mencekik ekonomi Teheran. Sanksi dan aksi angkatan laut ini ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan ekspor minyak Iran, yang merupakan sumber pendapatan utama negara tersebut.

Situasi ini digambarkan sebagai adu kekuatan, di mana kedua belah pihak merasa memiliki keunggulan dalam mengatur waktu untuk mencapai tujuan masing-masing.

AS dan Iran saling memberi tekanan dengan blokade Selat Hormuz

AS Yakin Blokade Akan Lumpuhkan Ekonomi Iran

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan keyakinannya bahwa fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Kharg akan segera penuh dalam beberapa hari ke depan. “Fasilitas penyimpanan di Pulau Kharg akan penuh dan sumur-sumur minyak Iran yang rapuh akan ditutup,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pembatasan perdagangan maritim Iran secara langsung menargetkan jalur pendapatan utama rezim tersebut.

Advertisement

Analisis yang beredar, termasuk dari lembaga kajian Foundation for Defense of Democracies (FDD) yang dikenal kritis terhadap rezim Iran, memperkirakan Iran akan kehabisan cadangan minyak pada hari Minggu, 26 April. FDD berargumen bahwa Selat Hormuz justru menjadi sumber kelemahan bagi Iran, bukan senjata ampuh.

Mark Dubowitz, kepala eksekutif FDD, menjelaskan bahwa strategi yang diterapkan saat ini adalah gencatan senjata di satu lini dan peningkatan tekanan di lini lain, termasuk oleh Komando Pusat AS yang meningkatkan tekanan dengan menyita kapal. “Memaksa Iran untuk menghentikan produksi karena kurangnya penyimpanan akan berisiko menyebabkan kerusakan reservoir jangka panjang termasuk hilangnya permeabilitas, pembentukan kerucut air, dan pemadatan formasi. Ini efek yang dapat secara permanen mengurangi produksi dan arus kas di masa depan,” kata Lance B Gordon, seorang pensiunan perwira angkatan laut.

Penghentian produksi minyak secara paksa ini diperkirakan dapat menghilangkan potensi produksi harian sebesar 300.000 hingga 500.000 barel per hari, sebuah pukulan telak bagi ekonomi Iran.

Iran Klaim Mampu Gagalkan Strategi AS

Menanggapi klaim AS, kepala lembaga peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni-Eje’i, menegaskan bahwa “Musuh (AS) tidak berada dalam posisi untuk menetapkan tenggat waktu bagi kita.” Teheran bersikeras bahwa mereka memahami situasi yang dihadapi dan mampu menggagalkan strategi AS. Salah satu langkah yang diambil adalah menolak memulai kembali pembicaraan sampai blokade yang dilakukan AS dicabut.

Iran merasa memiliki bukti keberhasilan blokade yang mereka lakukan. Harga minyak yang tetap bertahan di atas 100 dolar AS per barel menjadi indikator kunci bagi Iran. Selain itu, dampak blokade juga terlihat dari pembatalan 20.000 penerbangan Lufthansa akibat lonjakan biaya bahan bakar jet, tingkat kekosongan pemesanan hotel untuk musim panas, cadangan minyak di pelabuhan Fujairah Uni Emirat Arab, harga tembaga dan kondom, hingga beban biaya yang harus ditanggung kas negara-negara Eropa untuk meredam inflasi energi.

Penutupan Selat Hormuz oleh Teheran terbukti telah mengguncang perekonomian dan pasokan energi global.

Advertisement