— JAMBI, Kompas.com — Ratusan warga Kota Jambi, Sabtu (25/4/2026), tumpah ruah di Lapangan Bohok FC, Kecamatan Kota Baru, untuk merayakan tradisi sedekah bumi. Acara tahunan ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan hasil panen yang mereka peroleh.

Sebanyak 300 peserta yang berasal dari 12 kelompok masyarakat turut memeriahkan kegiatan dengan membawa beragam hasil bumi dari ladang mereka. Puji Hartono, salah seorang peserta, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus dilestarikan.

“Melanjutkan dari leluhur kita zaman dulu, ini rutin satu tahun sekali,” ujar Puji saat ditemui di lokasi acara.

Arak-arakan Hasil Panen Penuh Kebersamaan

Kemeriahan acara semakin terasa dengan arak-arakan hasil panen yang dibawa oleh para peserta. Berbagai komoditas pertanian seperti ketimun, kedelai, jagung, ubi-ubian, hingga hasil perkebunan kelapa sawit diarak dengan penuh semangat.

“Yang paling banyak ketimun, kedelai, jagung, ubi-ubian, sawit juga sekarang Alhamdulillah banyak,” kata Puji, merinci jenis hasil bumi yang mendominasi.

Tradisi sedekah bumi ini merupakan salah satu warisan budaya yang dijaga ketat oleh masyarakat, terutama para petani. Ritual ini bukan sekadar perayaan, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap alam dan ungkapan terima kasih mendalam kepada Sang Pencipta atas rezeki yang dilimpahkan.

Petani lain, Komari, menuturkan bahwa hasil panen yang melimpah merupakan buah dari kerja keras mereka sepanjang tahun. Ia berharap keberkahan hasil panen ini dapat membawa kebaikan lebih jauh.

“Kalau petani bisa makmur, insyaallah bisa ibadah haji dan umroh,” ujar Komari, menggambarkan harapannya.

Pererat Solidaritas dan Ketahanan Pangan

Rangkaian kegiatan sedekah bumi diawali dengan arak-arakan hasil bumi, dilanjutkan dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan dan permohonan. Puncak acara ditandai dengan santap bersama hasil bumi yang telah dikumpulkan, mempererat tali persaudaraan dan nilai gotong royong di antara warga.

Wakil Wali Kota (Wawako) Jambi, Diza Hazra Aljosha, mengapresiasi kegiatan ini. Ia menilai sedekah bumi tidak hanya sebagai tradisi belaka, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan ketahanan pangan dan perputaran ekonomi masyarakat.

“Rasa syukur kita kepada Allah SWT, tuhan yang maha esa, karena telah diberikan bahan pangan yang cukup untuk di Kota Jambi, dan disaat bersamaan juga mendukung roda perekonomian,” ungkap Diza saat ditemui Kompas.com di lokasi acara, Sabtu (25/4/2026).

Diza menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan produksi pangan agar Kota Jambi tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah. Ia juga mendorong perluasan keterlibatan masyarakat, termasuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), untuk memperkuat ekonomi lokal.

“Tetap menjaga ketahanan pangan kita, untuk bisa menjadi area atau daerah yang mandiri, baik itu dari kegiatan koperasi merah putih, begitu juga mendorong perekonomian,” ucapnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jambi, Mariani Yanti, melaporkan bahwa tahun ini kegiatan diikuti oleh 12 kelompok dengan total sekitar 300 peserta. Ia berharap dukungan anggaran dari Pemerintah Kota Jambi dapat lebih besar di masa mendatang.

“Rencananya insyaallah tahun depan kita akan melaksanakan memfasilitasi kegiatan ini, mudah-mudahan anggarannya lebih besar,” ujarnya.

Mariani menambahkan bahwa meskipun dukungan anggaran dari APBD masih terbatas, peran serta masyarakat dalam kegiatan ini sangat signifikan. Ia memperkirakan nilai sumbangsih masyarakat, termasuk dalam bentuk potong tumpeng dan hasil panen, melebihi Rp 150 juta.

“Tapi sumbangsih dari masyarakat lebih dari pada itu, kalau kita totalkan ya, potong tumpeng, hasil panen itu lebih dari 150 juta dari masyarakat, pemerintah hadir memberikan stimulan mengerahkan kegiatan budaya yang ada di masyarakat dari bahwa,” pungkasnya.