YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Memasuki masa peralihan musim, sebagian warga Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terpaksa mulai membeli air bersih. Kondisi ini terlihat jelas di Kapanewon Purwosari, di mana permintaan air mulai meningkat seiring menipisnya pasokan air akibat minimnya curah hujan.
Seorang sopir tangki pengangkut air di Kapanewon Purwosari, Sunardi, menjelaskan bahwa permintaan sudah terasa sejak bulan puasa lalu. “Kalau permintaan sudah sejak puasa lalu, karena sudah jarang hujan. Saat musim hujan kadang ada yang pesan untuk usaha atau ada kegiatan,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon pada Kamis (23/4/2026).
Sunardi menambahkan, lonjakan permintaan air bersih semakin terasa saat ini karena intensitas hujan semakin berkurang. Untuk wilayah Purwosari dan Panggang sendiri, terdapat sekitar 20 unit tangki air swasta yang beroperasi melayani kebutuhan warga. Rata-rata setiap kendaraan tangki yang memuat 5.000 liter air bersih melakukan pengiriman hingga lima kali dalam sehari.
Tarif pengiriman bervariasi tergantung jarak dan akses lokasi. Untuk pengiriman jarak dekat dengan akses mudah, warga dikenakan tarif sebesar Rp 150.000 per tangki. Namun, untuk pengiriman ke lokasi yang lebih jauh dari sumber air atau medan yang sulit, harga bisa melonjak hingga Rp 200.000 hingga Rp 250.000 per tangki.
“Ya rata-rata saat ini bisa ngirim 5 kali per tangki,” ungkap Sunardi, mengonfirmasi tingginya frekuensi pengiriman.
Kekeringan Mulai Melanda
Kondisi serupa juga dirasakan di Kalurahan Giripurwo. Lurah Giripurwo, Supriyadi, menyatakan bahwa bak penampung air hujan di wilayahnya sudah kosong sejak akhir Maret 2026. Bahkan, dirinya pribadi pun sudah harus membeli air bersih dari tangki swasta.
“Setelah Lebaran sudah membeli sebanyak dua tangki,” ungkap Supriyadi, mengilustrasikan keparahannya situasi di wilayahnya.
Ia menjelaskan bahwa wilayah Giripurwo memang dikenal jarang memiliki sumber air. Upaya pengeboran sumur yang telah dilakukan beberapa kali pun tidak selalu membuahkan hasil optimal. Dari delapan sumur bor yang ada, hanya dua lokasi yang mampu mengeluarkan air bersih.
Bahkan, dari dua lokasi tersebut pun kapasitasnya terbatas. Di Padukuhan Widoro, misalnya, meskipun terdapat sumur bor, air yang dihasilkan hanya cukup untuk melayani warga di empat RT. Sementara itu, sebelas RT lainnya masih menghadapi kesulitan akses air bersih.
“Memang sumber air di tempat kami sangat jarang,” pungkas Supriyadi, menegaskan tantangan geografis yang dihadapi warganya.






