Akses.co.id — Solo, Jawa Tengah – Keberadaan kebun sirkular di Sekolah Dasar Kanisius Pucangsawit, Solo, menuai apresiasi dari Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Kebun yang menghasilkan beragam sayuran, telur ayam, hingga ikan nila ini bahkan menjadi sorotan warganet karena hasil panennya dapat dinikmati langsung oleh para siswa sebagai bekal makan bergizi.
“Saya melihat ini luar biasa, inovasi yang sangat bagus untuk memberikan bekal gizi anak-anak kita. Kita berharap sekolah-sekolah negeri bisa mencontoh ini,” ujar Gibran saat meninjau langsung kebun sirkular SD Kanisius Pucangsawit, Kamis (30/4/2026).
Ia menambahkan, program yang diinisiasi oleh SD Kanisius Pucangsawit ini tidak hanya bermanfaat bagi pemenuhan gizi siswa, tetapi juga sebagai sarana edukasi karakter dan kemandirian.
Inspirasi untuk Sekolah Negeri
Wali Kota Solo secara khusus menyoroti potensi kebun sirkular ini untuk diaplikasikan di sekolah-sekolah negeri di bawah naungan pemerintah kota. “Saya sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh SD Kanisius. Ini bisa menjadi best practice yang bisa kita adaptasi di sekolah-sekolah negeri,” kata Gibran.
Saat kunjungan, Gibran turut serta dalam kegiatan panen sayuran bersama para siswa. Ia juga berkesempatan melihat langsung kandang ayam dan kolam ikan nila yang menjadi bagian dari sistem pangan sekolah tersebut. “Ini adalah investasi karakter yang sangat penting bagi anak-anak. Mereka belajar tentang proses, kerja keras, dan hasil,” tambahnya.
Gibran juga berjanji akan memberikan dukungan berupa beberapa ekor ayam dan peralatan berkebun untuk membantu kelancaran aktivitas guru dan siswa dalam mengelola kebun. “Ini adalah ketahanan pangan yang sesungguhnya, dimulai dari lingkungan sekolah,” tuturnya.
Kebun Sirkular Lahir dari Kebutuhan dan Ide Inovatif
Kepala Cabang Yayasan Kanisius Surakarta, Joseph Sitomurang, SJ, menjelaskan bahwa kebun sirkular ini merupakan buah pemikiran yang mulai digagas sejak pandemi COVID-19 pada tahun 2022. Ide tersebut kemudian direalisasikan dan mulai dibangun pada November 2025.
Joseph menuturkan, gagasan ini muncul dari keprihatinan terhadap kondisi fisik sekolah yang memerlukan pembenahan, serta sebagian siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. “Kami ingin menciptakan kemandirian bagi anak-anak. Pendidikan bukan hanya soal akademis, tetapi juga bagaimana mereka bisa mengelola lingkungan dan kehidupan di sekitar mereka,” jelas Joseph.
Ia menambahkan, konsep kemandirian ini diwujudkan melalui kegiatan berkebun. Siswa diajak untuk terlibat langsung dalam menanam, merawat, hingga memanen hasil kebun. “Kita ingin anak-anak memiliki pengetahuan praktis yang bisa mereka gunakan untuk mengelola hidupnya secara nyata sejak dini,” katanya.
Untuk mewujudkan kebun sirkular ini, Joseph Sitomurang mengungkapkan bahwa dibutuhkan modal operasional sekitar Rp 45 juta hingga Rp 50 juta. Pendanaan tersebut sebagian besar berasal dari donatur melalui platform Kitabisa.com.
Peran Sukarelawan dan Target Kemandirian
Keberhasilan kebun sirkular ini juga tidak lepas dari peran serta sukarelawan, salah satunya dari organisasi Ketumbar. Para sukarelawan ini berperan memberikan pelatihan dan pendampingan intensif kepada guru dan siswa dalam mengelola kebun.
“Awalnya mereka mendampingi setiap hari, kemudian frekuensinya dikurangi seiring dengan meningkatnya kemampuan para guru dan siswa,” ujar Joseph.
Direncanakan, pendampingan dari para sukarelawan akan berakhir pada Juni 2026. Hingga saat itu, pihak sekolah ditargetkan sudah mampu mengelola kebun sirkular secara mandiri. “Kami berharap setelah transfer ilmu selesai, pengelolaan kebun sepenuhnya bisa dilakukan oleh sekolah, meskipun sesekali kami tetap akan mengundang mereka untuk memberikan arahan,” tutup Joseph.
Ikuti Akses.co.id
