Money

Saham dan Obligasi Bisa Turun Bersamaan, Investor Cari Strategi Baru

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Perubahan lanskap ketidakpastian global memaksa investor untuk meninjau kembali strategi diversifikasi portofolio mereka, terutama terkait kombinasi saham dan obligasi yang sebelumnya dianggap sebagai jangkar keseimbangan.

Pendekatan klasik yang mengandalkan saham dan obligasi sebagai penyeimbang kini tidak lagi sepenuhnya efektif. Paul Lorentz, President and CEO Global Wealth and Asset Management Manulife, menjelaskan bahwa pola lama di mana saham turun dan obligasi naik, atau sebaliknya, tidak selalu terjadi belakangan ini.

“Ketika saham turun, obligasi menjadi penyeimbang, dan sebaliknya,” ujar Paul dalam Media Briefing Manulife Aset Manajemen Indonesia pada Rabu (22/4/2026). Namun, ia menambahkan, “Belakangan, pola itu tidak selalu terjadi. Dalam beberapa periode, saham dan instrumen pendapatan tetap turun bersamaan. Kondisi ini membuat fungsi lindung nilai menjadi melemah.”

Pergeseran Strategi Diversifikasi

Melemahnya fungsi lindung nilai dari kombinasi tradisional ini mendorong investor untuk mencari alternatif baru guna memperkuat portofolio mereka. Aset seperti private credit dan properti kini mulai dilirik.

Menurut Paul, penambahan aset alternatif dapat menciptakan diversifikasi yang lebih kuat, meningkatkan potensi imbal hasil, sekaligus menekan volatilitas. Namun, ia mengakui bahwa tidak semua investor siap untuk merambah instrumen ini.

Investor institusi dinilai lebih siap karena memiliki horizon investasi yang lebih panjang dan toleransi risiko yang lebih besar. Sebaliknya, investor ritel menghadapi keterbatasan, terutama terkait likuiditas yang menjadi tantangan utama. Aset alternatif tidak semudah reksa dana atau obligasi untuk dicairkan.

“Oleh karena itu, butuh waktu agar produk-produk ini benar-benar menjadi arus utama dan cocok untuk investor ritel,” ungkap Paul.

Advertisement

Prospek Pasar Indonesia

Meskipun demikian, Paul menilai bahwa perjalanan investasi sangat bergantung pada profil risiko masing-masing investor. Setiap individu memiliki preferensi yang berbeda dalam mengelola aset.

Indonesia sendiri berada di posisi yang menarik. Tren penurunan suku bunga mulai mendorong minat investor kembali ke instrumen pendapatan tetap.

“Penurunan suku bunga mendorong minat investor kembali ke pasar fixed income. Dalam jangka panjang, saya juga melihat adanya peluang di pasar saham, terutama seiring berkembang dan matangnya pasar,” ungkap Paul.

Kinerja pasar saham di Indonesia juga dinilai cukup solid. Stabilitas yang mulai terbentuk berpotensi menarik kembali arus dana ke pasar ekuitas.

Paul melihat pola perkembangan investor di Indonesia menyerupai pasar berkembang lainnya. Investor pemula umumnya memulai dari reksa dana pasar uang, kemudian beralih ke pendapatan tetap, dan tahap selanjutnya mengarah ke saham untuk memperluas portofolio. Proses ini berjalan seiring dengan meningkatnya pemahaman dan toleransi risiko investor.

“Semua ini soal kenyamanan dan toleransi risiko. Setiap investor berbeda, dan profil risikonya pun tidak sama,” tutup Paul.

Advertisement