Regional

Saat 40 Murid SD Aceh Utara Menaiki Boat Seberangi Sungai ke Sekolah

Advertisement

Sebanyak 40 siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 7 Paya Bakong di Aceh Utara harus menempuh perjalanan berbahaya setiap hari untuk menuntut ilmu. Mereka terpaksa menaiki speed boat tanpa mesin, ditarik menggunakan tali, untuk menyeberangi sungai yang memisahkan dusun tempat tinggal mereka dengan sekolah.

Kondisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun di Dusun Biram, Desa Plu Pakam, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara. Tidak adanya jembatan penghubung memaksa para siswa, beserta masyarakat setempat, bergantung pada transportasi sungai yang minim fasilitas.

Kepala Dusun Biram, Nariman, menjelaskan kepada Kompas.com bahwa sebelum menggunakan speed boat, warga menggunakan sampan. Speed boat yang kini digunakan dibeli melalui swadaya masyarakat. “Speed boat itu kami beli dari hasil swadaya masyarakat,” ujar Nariman.

Nariman mengakui bahwa akses transportasi ini tidak sepenuhnya aman. Tali penarik pernah putus, bahkan insiden kecil berupa siswa yang jatuh ke sungai pernah terjadi. “Tidak ada korban jiwa saat kejadian itu. Karena saat itu debit air tidak tinggi,” tuturnya.

Pihak dusun sendiri telah berupaya mengajukan permohonan pembangunan jembatan kepada pemerintah. Lokasi tersebut bahkan sudah dua kali didatangi oleh pihak terkait untuk melakukan peninjauan. Namun, hingga kini, belum ada tindak lanjut yang berarti. “Kami berharap ada bantuan jembatan untuk kami, agar anak-anak juga nyaman ke sekolah,” harap Nariman.

Advertisement

Dampak pada Proses Belajar Mengajar

Guru SDN 7 Paya Bakong, Rina Fariani, mengungkapkan bahwa sekolahnya memiliki total 201 siswa. Namun, 40 siswa dari Dusun Biram Gampong Plu Pakam adalah yang paling merasakan dampak dari keterbatasan akses ini. Ia mengaku prihatin dengan kondisi yang dihadapi anak didiknya.

Cuaca buruk seringkali membuat para siswa ini terlambat masuk sekolah. “Mereka sering terlambat karena harus menyeberang. Bahkan kalau air besar, mereka tidak bisa ke sekolah sama sekali,” kata Rina.

Saat debit air sungai sedang rendah, para siswa bahkan nekat menyeberangi sungai dengan berjalan kaki. Akibatnya, tak jarang mereka tiba di sekolah dengan kondisi celana yang basah kuyup terendam air. “Kami berharap agar ada perhatian khusus dari pemerintah terkait kondisi ini,” pungkas Rina.

Advertisement