— Bank Indonesia (BI) mengindikasikan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau dalam kondisi undervalued. Data BI per 21 April 2026 menunjukkan kurs rupiah berada di level Rp 17.140 per dolar Amerika Serikat (AS), yang berarti melemah sekitar 0,87 persen dibandingkan akhir Maret 2026. Kondisi ini semakin terlihat pada perdagangan Kamis (23/4/2026), di mana rupiah sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di Rp 17.286, mencatat pelemahan 0,61 persen atau 105 poin dari hari sebelumnya. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai makna undervalued dan dampaknya bagi perekonomian domestik.

Apa Arti Rupiah Undervalued?

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa istilah undervalued pada nilai tukar merujuk pada kondisi di mana mata uang suatu negara diperdagangkan di bawah nilai fundamentalnya. Dalam konteks rupiah, ini berarti nilai tukarnya terhadap dolar AS dinilai terlalu lemah jika dibandingkan dengan kekuatan ekonomi Indonesia yang seharusnya.

“Exchange rate rupiah terhadap dolar dianggap ‘undervalued’ diartikan sebagai terlalu rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dibandingkan nilai fundamentalnya,” ujar Eddy.

Eddy menambahkan bahwa penilaian ini tidak bersifat mutlak dan sangat bergantung pada metode yang digunakan. Ia menekankan bahwa interpretasi terhadap undervaluation maupun overvaluation bersifat relatif, bukan absolut.

Pengukuran nilai tukar fundamental biasanya melibatkan berbagai pendekatan. Metode yang umum digunakan antara lain purchasing power parity (paritas daya beli), international Fisher equation, hingga interest rate parity (paritas suku bunga).

Dampak Rupiah Undervalued bagi Ekonomi Domestik

Menurut Eddy Junarsin, kondisi mata uang yang undervalued tidak selalu membawa dampak negatif. Sebaliknya, dalam banyak kasus, justru terdapat sejumlah keuntungan yang dapat dirasakan, terutama oleh sektor ekspor dan industri dalam negeri.

“Sebenarnya mata uang yang undervalued itu banyak manfaatnya,” kata Eddy.

Ia memaparkan bahwa pelemahan nilai tukar membuat produk-produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Di sisi lain, barang impor akan relatif menjadi lebih mahal, yang berpotensi mendorong peningkatan konsumsi produk lokal.

Selain itu, kondisi ini juga dapat berdampak positif pada peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja. Biaya operasional yang lebih rendah di dalam negeri dapat menarik aliran masuk investasi asing (foreign direct investment), yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

“Lebih murahnya biaya beroperasi di dalam negeri menyebabkan derasnya cash inflow dari luar dalam bentuk foreign direct investment sehingga ekonomi bisa tumbuh dan lapangan kerja meningkat,” jelasnya.

Tekanan Global dan Peran Bank Indonesia

Eddy Junarsin menekankan bahwa pelemahan rupiah tidak dapat dilepaskan dari pengaruh faktor global, seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian kondisi ekonomi dunia. Di tengah ketidakpastian global, aliran modal cenderung beralih ke aset yang dianggap aman (safe haven).

“Pengaruh faktor global tentu sangat nyata. Di tengah kondisi volatile, uncertain, complex, and ambiguous (VUCA), uang cenderung bergerak ke tempat-tempat yang dianggap ‘safe haven’ seperti U.S.,” ujar Eddy.

Ia juga menyinggung upaya negara-negara maju dalam mempertahankan suku bunga tinggi untuk mencegah arus modal keluar dari negara mereka.

Terkait kebijakan, Eddy menilai Bank Indonesia telah menjalankan langkah yang tepat dalam menghadapi situasi ini, meskipun dihadapkan pada dilema yang besar. Bank sentral dihadapkan pada tugas menyeimbangkan antara pengendalian inflasi dan penciptaan lapangan kerja.

“Saya kira BI sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” katanya.

Namun, Eddy menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar. Intervensi yang terlalu dalam untuk menguatkan mata uang yang secara fundamental memang harus melemah dapat menimbulkan kerugian permanen.

“Kalau mata uang memang harus melemah karena berbagai faktor, tapi diintervensi terlalu dalam untuk menguat, itu malah bisa menyebabkan permanent damage,” tegasnya.

Lebih lanjut, Eddy menambahkan bahwa stabilitas rupiah tidak dapat sepenuhnya bergantung pada Bank Indonesia. Diperlukan dukungan kebijakan fiskal yang solid, kontribusi dari sektor swasta, serta terjaganya stabilitas politik dan keamanan nasional.