Akses.co.id — Beijing – Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp17.300 per dolar Amerika Serikat, PT Jetour Sales Indonesia memastikan harga jual kendaraan mereka di pasar domestik tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Komitmen ini diambil untuk menjaga daya beli konsumen di tengah gejolak ekonomi global.
Moch Ranggy Radiansyah, Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, menyatakan bahwa perusahaan tetap berupaya menghadirkan produk dengan harga yang kompetitif. “Terkait makro ekonomi, kami berkomitmen menghadirkan kendaraan dengan pricing (harga) yang kompetitif,” ujar Ranggy dalam keterangan pers di Beijing, Rabu (24/4/2026).
Strategi Harga Jangka Panjang
Menurut Ranggy, strategi penetapan harga yang telah disusun oleh Jetour sudah mencakup berbagai skenario ekonomi di masa depan, termasuk potensi fluktuasi nilai tukar mata uang. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk tidak serta-merta menyesuaikan harga ketika terjadi gejolak ekonomi.
“Jadi komitmen kami masih dengan harga yang sudah kami umumkan, belum ada diskusi untuk penyesuaian (harga),” tegasnya.
Salah satu faktor kunci yang mendukung stabilitas harga ini adalah upaya perakitan lokal atau Completely Knocked Down (CKD) untuk beberapa model Jetour di Indonesia. Dengan adanya produksi dalam negeri, dampak pelemahan rupiah terhadap biaya impor komponen dapat diminimalisir.
Saat ini, Jetour menawarkan beberapa model di pasar Indonesia. Model Jetour T2 dibanderol mulai dari Rp588 juta, Jetour Dashing ditawarkan mulai Rp348,8 juta, dan Jetour X70 Plus memiliki harga mulai Rp359,8 juta.
Dengan strategi harga yang telah diproyeksikan dalam jangka panjang dan fokus pada efisiensi produk, Jetour berupaya untuk menjaga agar daya beli konsumen tetap stabil. Upaya ini dilakukan di tengah tantangan ekonomi nasional yang meliputi tekanan ekonomi global dan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak.
Ikuti Akses.co.id
