Akses.co.id — PALEMBANG, KOMPAS.com – Polemik praktik pengobatan yang viral di media sosial akhirnya diklarifikasi oleh pihak Rumah Sirih Palembang. Sang pemilik, Ferizka Utami, membantah tudingan negatif yang beredar dan menegaskan bahwa metode pengobatan yang dijalankan berjalan terbuka serta telah terbukti memberikan dampak positif bagi pasien.
Video pengobatan anak yang diunggah pasien ke media sosial menjadi sorotan publik. Ferizka menjelaskan, unggahan tersebut justru berasal dari pasien yang merasa anaknya mengalami kesembuhan signifikan setelah menjalani terapi rutin. Namun, tanpa disadari, video itu kemudian memicu komentar negatif dari pihak yang tidak memahami kondisi sebenarnya.
“Pasien yang mengunggah sendiri karena merasa anaknya mengalami perubahan positif kesembuhan setelah menjalani pengobatan rutin. Namun, video itu kemudian disertai komentar negatif dari pihak yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya,” ujar Ferizka dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (26/4/2026), melalui kuasa hukumnya, A Rilo Budi.
Klarifikasi Metode Pengobatan
Ferizka menegaskan bahwa praktik pengobatan di Rumah Sirih Palembang telah berjalan secara terbuka sejak tahun 2012. Metode yang digunakan adalah terapi tradisional bernama totok sirih. Terapi ini memanfaatkan media kayu untuk menekan titik-titik saraf tertentu pada tubuh pasien, yang disesuaikan dengan usia, mulai dari bayi hingga lansia.
Lebih lanjut, Ferizka menyatakan bahwa pihaknya tidak menetapkan tarif khusus dalam setiap pelayanannya. Pasien dipersilakan untuk memberikan pembayaran secara sukarela sesuai kemampuan.
“Kami tidak mematok tarif, semuanya seikhlasnya. Harapannya, masyarakat dari berbagai kalangan tetap bisa mendapatkan pertolongan,” jelasnya.
Ia mengakui, viralnya video tersebut membawa dampak ganda. Di satu sisi, Rumah Sirih Palembang semakin dikenal oleh masyarakat luas. Namun, di sisi lain, muncul tudingan-tudingan yang dianggap tidak berdasar.
“Saya tidak ingin viral karena konflik atau tuduhan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kalau viral, saya ingin karena membantu masyarakat menjadi sehat,” tegas Ferizka.
Ajakan Bijak Bermedia Sosial
Menyikapi informasi yang beredar, Ferizka mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Kami tetap buka seperti biasa dan melayani masyarakat. Tidak ada paksaan. Kalau cocok silakan lanjut, jika tidak, silakan mencari pengobatan lain,” katanya.
Tim kuasa hukum dari Sakahira Law Firm, yang dipimpin oleh A Rilo Budiman, turut angkat suara. Mereka menilai informasi yang tersebar di media sosial tidak utuh dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
“Datang dan buktikan langsung, jangan hanya menilai dari potongan video,” ujar Rilo.
Menurut Rilo, sejumlah pihak telah melakukan peninjauan langsung ke Rumah Sirih Palembang, termasuk perwakilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Selatan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sumsel. “Hasil peninjauan tersebut disebut tidak menemukan adanya pelanggaran dalam praktik yang dilakukan,” ungkapnya.
Testimoni Orang Tua Pasien
Intan, orang tua pasien yang videonya viral dan merupakan pemilik akun pengunggah, menegaskan bahwa aksinya tersebut murni inisiatif pribadi tanpa paksaan dari pihak manapun. Ia menyatakan bahwa anaknya dalam kondisi sehat, tanpa luka atau memar.
“Anak saya sehat, tidak ada luka atau memar. Saya justru senang karena ada perkembangan setelah berobat di Rumah Sirih. Saya sudah rutin sejak 2014,” ungkap Intan.
Ikuti Akses.co.id
